Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

MODIFIKASI ATMOSFER DENGAN PENGEMASAN UNTUK PRODUK HORTIKULTURA



UNIVERITAS JEMBER
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
LAPORAN PRAKTIKUM
NAMA                                               : BAYU GUSTI SAPUTRA
NIM                                                    : 111510501152
GOLONGAN/KELOMPOK           : SELASA SIANG / 5
ANGGOTA                                       : ILHAM ROSID               (101510501135)
                                                              RIDWAN YOGA S          (101510501169)
                                                              FATCHUL A                   (101510501172)
                                                              ADITYA YULIAN           (091510501173)
                                                              ESTI DWI YULIANI      (101510501135)
                                                              FARIS AGAZALI          (111510501126)
                                                              ARI WAHYUDI              (111510501131)
                                                              ILHAM ROBY                (111510501139)
ACARA                                             : MODIFIKASI ATMOSFER DENGAN PENGEMASAN UNTUK PRODUK HORTIKULTURA
TANGGAL PRAKTIKUM            : 22 OKTOBER 2012
TANGGAL PENYERAHAN         : 6 DESEMBER 2012
                                                             






BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
      Buah dan sayuran setelah dipanen masih tetap mengalami proses hidup, dalam arti masih berlangsungnya proses respirasi. Respirasi sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat kesegaran, sehingga akan mempengaruhi atau menyebabkan penurunan kualitas sayuran. Proses respirasi ini ada yang berjalan lambat seperti bawang, kentang, ubi jalar, ada yang berjalan sedang seperti kol atau kubis, tomat, kentang muda, mentimun dan ada yang berjalan cepat seperti buncis dan ada yang berjalan sangat cepat seperti jagung manis. Pada praktikum ini akan digunakan sawi, kangkung dan bayam yang akan modifikasi lingkungan atmosfer dengan pengemasan.Pada umumnya produk hortikultura seperti buah-buahan dan sayuran mudah mengalami kerusakan, khususnya setelah penanganan pasca panen. Hal ini karena adanya proses respirasi maupun transpirasi dari produk tersebut. Adapun untuk mempertahankan mutu suatu produk, seperti mutu warna, ukuran, bentuk, kondisi, tekstur, citarasa (flavour) dan nilai nutrisi, diperlukan suatu cara dalam mempertahankannya. Cara yang sering dilakukan adalah seperti penyimpanan dingin maupun mengubah komposisi atmosfer dengan cara pengemasan suatu produk hortikultura guna mempertahankan mutu produk hortikultura.
            Tindakan pasca panen yang biasanya dilakukan untuk menurunkan laju respirasi suatu produk hortikultura adalah dengan pengemasan produk menggunakan plastik film. Perubahan konsentrasi CO2 dan O2 di sekitar produk diharapkan dalam pengemasan plastik film ini. Adapun perubahan tersebut disebabkan oleh proses respirasi produk serta interaksi dengan permeabilitas plastik terhadap CO2 dan O2. Dengan demikian, laju respirasi dari produk hortikultura akan menurun, dan masa simpan produk tersebut dapat dipertahankan. Plastik film yang digunakan untuk penyimpanan produk hortikultura dapat berupa polietilen. Adapun polietilen terdapat dua jenis, yaitu HDPE (high density polyethylene) atau LDPE (low density polyethylene). Penggunaan polietilen pada praktikum ini adalah polietilen dengan densitas rendah atau LDPE. Dengan adanya plastik polietilen ini, maka laju respirasi produk akan menurun karena polietilen mempunyai sifat permeabilitas terhadap uap air dan air rendah, stabil terhadap panas, memiliki kerapatan tinggi sebagai pelindung terhadap tekanan luar, serta tidak bereaksi dengan makanan dan tidak menimbulkan racun.
Penggunaan plastik polietilen dalam pengemasan produk hortikultura dapat tergantung dari ketebalan. Artinya, pemilihan ketebalan plastik dalam hal ini mempunyai arti penting, karena apabila salah dalam memilih ketebalan plastik, produk hortikultura dapat menyimpang dalam proses metabolismenya yang terjadi akibat plastik terlalu tebal atau bahkan proses penyimpanan produk hortikultura tersebut tidak dapat efektif yang terjadi akibat plastik terlalu tipis.
Kualitas suatu sayuran tidak dapat ditingkatkan atau diperbaiki setelah dipanen, akan tetapi hanya dapat dipertahankan. Cara untuk dapat mempertahankan kualitas tersebut antara lain dengan melakukan: Penanganan pasca panen secara baik, penyimpanan di tempat yang cocok atau ideal dan pengemasan yang benar. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam praktikum ini penting dilakukan percobaan terhadap pengemasan plastik pada produk hortikultura dan pengaruhnya terhadap masa simpannya.

1.2 Tujuan
1. Mahasiswa memahami adanya interaksi metabolisme produk dengan karakteristik permeabilitas plastik berpengaruh terhadap mutu produk hortikultura segar selama penyimpanan.
2.    Mahasiswa memahami pentingnya pengemasan dan suhu penyimpanan sebagai cara untuk memperlambat kemunduran mutu produk.
3.    Mahasiswa mampu mengidentifikasi perubahan – perubahan karakteristik mutu produk segar akibat pengemasan plastik dan suhu selama penyimpanan.
4.    Mampu menulis laporan tertulis secara kritis.     



BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

            Masalah yang sering muncul pada produk pertanian dalam bentuk segar adalah kerusakan yang timbul akibat proses respirasi dan transpirasi yang masih berlangsung setelah produk pertanian dipanen (Rosalina, 2011). Teknologi yang paling banyak dikembangkan untuk mempertahankan kesegaran buah adalah controlled atmosfer (CA) dan modified atmosfer packaging (MAP). Kedua teknologi tersebut menurut Rosalina (2011) dapat meningkatkan umur simpan produk – produk segar hasil pertanian.
            Menurut Rosalina (2011), dalam pelaksanaannya, teknologi MAP lebih banyak diterapkan karena tidak membutuhkan gas generator untuk mengontrol atmosfir penyimpanan, sehingga lebih ekonomis. Penggunaan teknologi MAP ditujukan untuk menjaga kondisi atmosfir dalam kemasan tetap terjaga, sehingga dapt diharapkan dapat mengoptimalkan umur simpan buah segar. Teknologi tersebut memerlukan kesesuaian antara bahan kemasan dan produk yang dikemas. Hal ini karena pada waktu yang sama terjadi proses penyerapan oksigen (O2) oleh produk yang digunakan untuk respirasi dan proses pelepasa karbondioksida (CO2) hasil respirasi bahan kemasan. Oleh karena itu, diperlukan bahan kemasan yang mempunyai permeabilitas baik untuk mengoptimalkan kesegaran produk kemasan, salah satunya dengan pemakaian bahan plastik dimana bahan ini empunyai permeabilitas tertentu, sesuai dengan jenis dan ketebalannya (Rosalina, 2011). 
            Metode penyimpanan dingin dapat dikombinasikan dengan pengaturan konsentrasi oksigen dan karbondioksida. Penyimpanan CAS dan MAS dilakukan dengan cara menurunkan konsentrasi oksigen dan meningkatkan konsentrasi gas karbondioksida. Perbedaan CAS dan MAS adalah bila CAS dilakukan dalam suatu ruangan penyimpanan, sedangkan MAS hanya dalam wadah tertutup, misalnya kantong plastik. Kecepatan respirasi dan metabolisme sayuran yang disimpan dalam sistem CAS atau MAS akan menurun bukan hanya akibat pengaruh suhu rendah, tetapi juga karena konsentrasi oksigen yang rendah dan konsentrasi gas karbondioksida yang tinggi. Namun, konsentrasi oksigen sebaiknya tidak terlalu rendah karena akan terjadi fermentasi dan kebusukan (Samad, 2006).
            Plastik PE, baik jenis HDPE (high density polyethylene) atau LDPE (low density polyethylene) umumnya digunakan sebagai wadah atau kemasan primer. Artinya, kemasan yang kontak atau berhubungan langsung dengan produk. Sifat menguntungkan dari jenis plastik ini adalah sifat permeabilitas terhadap uap air dan air rendah, stabil terhadap panas, dan memiliki kerapatan tinggi sebagai pelindung terhadap tekanan luar. Selain itu, PE juga tidak bereaksi dengan makanan dan tidak menimbulkan racun (Sarwno dan Saragih, )
            Brown et al. dalam Rosalina (2011) menunjukkan bahwa penggunaan plastik polyethylen (PE) tertutup rapat memberikan hasil yang signifikan dalam mempertahankan susut bobot buah rambutan pada suhu rendah dan bertahan hingga hari ke sembilan. Wills et al. dalam Rosalina (2011) juga menyatakan film kemasan polyethylen merupakan bahan pengemas plastik yang baik digunakan pada sistem penyimpanan dengan atmosfir termodifikasi, karena mempunyai permeabilitas yang besar terhadap CO2 dibandingkan dengan O2.
            Menurut Muchtadi dalam Hasbi et al. (2005), tingkat kematangan mempengaruhi susut bobot buah  manggis selama penyimpanan karena perbedaan komposisi buah – buahan seperti karbohidrat yang terdapat dalam buah pada proses respirasi akan diromabak menjadi sewawa yang mudah menguap seperti CO2 dan H2O sehingga buah keholangan susut bobotnya. Penurunan kekerasan pada awal penyimpanan disebabkan karena perombakan protopektin yang tidak larut diubah menjadi asam pektat dan pektin yang mudah larut air (Pantastico dalam Hasbi et al., 2005). Senyawa dinding sel terdiri dari selulosa, hemiselulosa, pektin, dan lignin. Degradasi hemiselulosa dan pektin pada proses pematangan buah mengakibatkan kekerasan buah menjadi lunak. Selain itu, dinding sel buah – buahan dan sayur – sayuran berhubungan dengan turgor sel. Dalam proses pematangan tekanan turgor sel selalu berubah karena komposisi dinding sel berubah. Perubahan tersebut akan mempengaruhi kekerasan (firmness) buah yang menyebabkan buah menjadi lunak apabila telah matang (Muchtadi dalam Hasbi et al., 2005).
            Pada penelitian Hasbi et al. (2005), peningkatan suhu akan meningkatkan pembentukan pigmen. Suhu penyimpanan yang semakin tinggi menyebabkan buah manggis yang disimpan lebih cepat mengalami perubahan warna dari semburat ungu dan coklat menjadi ungu tua atau hitam. Hal ini disebabkan oleh warna hijau yang melibatkan pemecahan klorofil dan munculnya pigmen antosianin. Nilai “Lightness” (L) menunjukkan tingkat kecerahan yang dipengaruhi oleh jenis kemasan, tingkat kematangan, suhu penyimpanan, serta interaksi ketiga perlakuan. Nilai “Chroma” (C) menunjukkan intensitas dan kekuatan warna (kusam atau mengkilat), hal ini dipengaruhi oleh jenis kemasan, tingkat kematangan, suhu penyimpanan, interaksi perlakuan suhu penyimpanan dan tingkat kematangan, dan interaksi perlakuan jenis kemasan dan suhu penyimpanan. Penyimpanan suhu rendah akan menghambat penurunan nilai C, sehingga warna buah tetap mengkilat. Nilai “Hue” (H) menunjukkan warna yang dominan. Nilai ini dipengaruhi oleh suhu penyimpanan, dimana penyimpanan suhu rendah menyebabkan proses fisiologis manggis mengalami penurunan sehingga perubahan warna dapat dihambat (Hasbi, et al.,2005).
            Kenaikan gula disebabkan hidrolisis pati menjadi sukrosa, glukosa, dan fruktosa, dan kecapatan hidrolisis ini lebih besar dibandingkan kecepatan perubahan glukosa menjadi CO2 dan H2O serta energi sehingga dalam jaringan buah terjadi penimbunan glukosa selama penyimpanan. Penurunan gula total selama penyimpanan disebabkan buah manggis mulai melewati masa pematangan. Pada tahap ini diduga kadar pati sudah sedikit dan aktivitas enzim invertase sudah mulai menurun sehingga jumlah kadar gula pereduksi yang terbentuk juga menurun (Winarno et al. dalam Hasbi et al., 2005).
            Asam – asam organik yang terdapat pada buah – buahan merupakan sumber energi buah, sehingga makin tinggi kadungan asam buah, maka semakin tinggi pula ketahanan simpan buah tersebut. Asam – asam organik dalam buah – buahan selama respirasi akan mengalami penguraian. Proses penguraian ini berlangsung dalam kondisi aerob dan anaerob. Kadar asam organik dalam buah – buhan mula – mula bertambah dan mencapai maksimum pada waktu pematangan, tetapi kemudian berkurang secara perlahan – lahan pada waktu pematangan. Asam – asam organik selama penyimpanan umumnya digunakan sebagai energi untuk melakukan respirasi sehingga semakin lama penyimpanan, asam total buah akan semakin menurun (Hasbi, et al., 2005).   









































BAB 3. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Teknologi Panen Dan Pasca Panen tentang Modifikasi Atmosfer Dengan Pengemasan Untuk Produk Hortikultura dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2012 di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Ruang pendinginan

3.2.2 Bahan
1.  Kangkung  
2.  Seladri
3.  Sawi 
4.  Pisang
5.  Tomat
6.  Mentimun
7. Plastik polietilen densitas rendah (LDPE) dengan ketebalan berbeda yakni 0.02 mm

3.3 Cara Kerja
1.  Memilih salah  satu jenis buah dan sayuran daun sebagai bahan percobaan
2. Mengemas bahan dengan jumlah atau berat tertentu sebagai unit percobaan dengan plastik LDPE dengan ketebalan berbeda 
3. Meyakinkan bahwa tidak ada kebocoran udara pada bagian sambungan kemasan plastik
4. Menempatkan pada suhu dingin dan suhu kamar pada bahan percobaan yang telah dikemas
5. Melakukan pengulangan sebanyak dua kali
6. Mengamati perubahan mutu bahan percobaan selama periode penyimpanan
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
            Berdasarkan hasil praktikum maka dapat diperoleh data berupa tabel sebagai berikut :
            Tabel 1. Tabel data pengamatan pengemasan produk hortikultura

Parameter
Buah
Pengepakan
UL
Waktu (hari)
I
II
VI
IX
Kekerasan
Sawi
Pengemasan
1
5
3
2
2
2
5
3
2
1
Tidak dikemas
1
5
5
2
1
2
5
5
1
1
Kangkung
Pengemasan
1
5
3
2
2
2
5
3
2
1
Tidak dikemas
1
5
3
1
1
2
5
4
1
1
Bayam
Pengemasan
1
5
4
3
1
2
-
-
-
-
Tidak dikemas
1
5
4
1
1
2
-
-
-
-
Warna
Sawi
Pengemasan
1
5
3
2
2
2
5
3
2
2
Tidak dikemas
1
5
4
2
1
2
5
4
1
1
Kangkung
Pengemasan
1
5
3
2
2
2
5
3
1
1
Tidak dikemas
1
5
3
2
1
2
5
4
1
1
Bayam
Pengemasan
1
5
4
3
1
2
-
-
-
-
Tidak dikemas
1
5
4
1
1
2
-
-
-
-
Pembusukan
Sawi
Pengemasan
1
5
5
2
2
2
5
3
2
2
Tidak dikemas
1
5
4
2
1
2
5
2
1
1
Kangkung
Pengemasan
1
5
3
2
1
2
5
3
2
1
Tidak dikemas
1
5
3
2
1
2
5
4
1
1
Bayam
Pengemasan
1
5
5
4
1
2
-
-
-
-
Tidak dikemas
1
5
5
1
1
2
-
-
-
-

4.2 Pembahasan
            Pengemasan produk hortikultura adalah suatu usaha menempatkan produk segar ke dalam suatu wadah yang memenuhi syarat sehingga mutunya tetap atau hanya mengalami sedikit penurunan pada saat diterima oleh konsumen akhir dengan nilai pasar yang tetap tinggi. Dengan pengemasan, komoditi dapat dilindungi dari kerusakan, benturan mekanis, fisik, kimia dan mikrobiologis selama pengangkutan, penyimpanan dan pemasaran. Pada umumnya penyimpanan pada produk hortikultura menggunakan pengemasan dalam wadah plastik LDPE seperti pada praktikum kali ini.  Berdasarkan hasil pengamatan pengemasan produk hortikultura pada praktikum ini yaitu sayuran yang sesuai adalah pengemasan dengan wadah plastik kedap udara. Hal ini karena pada waktu yang sama terjadi proses penyerapan oksigen (O2) oleh produk yang digunakan untuk respirasi dan proses pelepasa karbondioksida (CO2) hasil respirasi bahan kemasan. Oleh karena itu, diperlukan bahan kemasan yang mempunyai permeabilitas baik untuk mengoptimalkan kesegaran produk kemasan, salah satunya dengan pemakaian bahan plastik dimana bahan ini empunyai permeabilitas tertentu, sesuai dengan jenis dan ketebalannya .
            Pada praktikum ini, perlakuan pengemasan produk seluruhnya dapat menghambat pembusukan pada produk hortikultura. Namun perlakuan pengemasan dengan wadah plastik justru lebih cepat mengalami pembusukan pada hari pengamatan terakhir. Hal ini diduga karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya.  Faktor-faktor yang mempengaruhi kerusakan bahan pangan sehubungan dengan kemasan yang digunakan dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu golongan pertama kerusakan ditentukan oleh sifat alamiah dari produk dan tidak dapat dicegah dengan pengemasan, misalnya perubahan kimia, biokimia, fisik serta mirobiologi.
Sedangkan golongan kedua, kerusakan yang ditentukan oleh lingkungan dan hampir seluruhnya dapat dikontrol dengan kemasan yang dapat digunakan, misalnya kerusakan mekanis, perubahan kadar air bahan, absorpsi dan interaksi dengan oksigen. Namun, sebagian dari produk hortikultura yang dikemas dengan wadah plastik juga terhambat dalam pembusukan produk, yaitu pada produk kangkung dan sawi. Hal ini karena dengan adanya pengemasan plastik ini dapat mencegah proses respirasi pada produk, dimana proses ini merupakan suatu proses oksidasi dari substrak dengan menggunakan oksigen dari udara serta melepaskan karbondioksida, air, serta sejumlah energi. Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh pada praktikum pengemasan plastik pada produk hortikultura seperti kangkung, sawi, serta bayam digunakan parameter pengamatan kekerasan, perubahan warna, dan pembusukan. Pada parameter kekerasan, perlakuan yang dapat mempertahankan kekerasan produk adalah perlakuan pengemasan plastik, kecuali pada produk hortikultura bayam, dimana antara perlakuan pengemasan plastik maupun tanpa pengemasan hasilnya sama. Penurunan kekerasan pada awal penyimpanan disebabkan karena perombakan protopektin yang tidak larut diubah menjadi asam pektat dan pektin yang mudah larut air.
Parameter selanjutnya yang diamati adalah parameter perubahan warna. Adapun sebagian besar produk seperti kangkung ke-2, sawi, dan bayam terjadi penurunan perubahan warna, baik pada yang sama dengan perlakuan pengemasan wadah plastik maupun yang tidak diberi kemasan plastik. Sedangkan pada produk kangkung ke-1 perubahan warna lebih cepat dialami pada perlakuan tanpa pengemasan plastik.  Peningkatan suhu akan meningkatkan pembentukan pigmen. Suhu penyimpanan yang semakin tinggi menyebabkan buah manggis yang disimpan lebih cepat mengalami perubahan warna dari semburat ungu dan coklat menjadi ungu tua atau hitam. Nilai “Lightness” (L) menunjukkan tingkat kecerahan yang dipengaruhi oleh jenis kemasan, tingkat kematangan, suhu penyimpanan, serta interaksi ketiga perlakuan. Nilai “Chroma” (C) menunjukkan intensitas dan kekuatan warna (kusam atau mengkilat), hal ini dipengaruhi oleh jenis kemasan, tingkat kematangan, suhu penyimpanan, interaksi perlakuan suhu penyimpanan dan tingkat kematangan, dan interaksi perlakuan jenis kemasan dan suhu penyimpanan. Nilai “Hue” (H) menunjukkan warna yang dominan. Nilai ini dipengaruhi oleh suhu penyimpanan.
Pada praktikum kali ini dengan adanya pengemasan plastik ini kadar asam pada buah hampir sama dengan yang tidak dikemas dengan plastik, berbeda dengan pengemasan plastik pada timun mengalami penurunan kadar asam yang tidak terlalu cepat dibandingkan dengan yang tidak dikemas dengan plastik. Hal ini diduga karena pengemasan plastik yang dilakukan tidak terlalu optimal. Menurut Winarno dan Jenie (2005), asam–asam organik dalam buah–buahan selama respirasi akan mengalami penguraian, baik dalam kondisi aerob maupun anaerob. Kadar asam organik dalam buah-buahan mula-mula bertambah dan mencapai maksimum dalam waktu pematangan, kemudian berkurang secara perlahan selama pematangan. Asam-asam organik ini digunakan sebagai energi untuk melakukan respirasi sehingga semakin lama penyimpanan total buah akan menurun. Pada pengemasan dengan plastik, kadar gula tidak cepat meningkat dibandingkan dengan yang tidak dikemas dengan plastik.
Berdasarkan pengamatan produk yang cepat mengalami pembusukan adalah bayam, meskipun rata-rata pada hari ke-6 semua produk pertanian telah terlihat hampir busuk. Pembusukan yang terjadi ini diduga karena masih tersisanya udara ketika dilakukan pengemasan plastik, pada wadah plastik masih terjadi penggembungan. Dengan adanya udara yang tersisa dalam wadah tersebut memungkinkan produk masih dapat melakukan respirasi, dimana terjadi proses penyerapan oksigen (O2) oleh produk yang digunakan untuk respirasi dan proses pelepasa karbondioksida (CO2) hasil respirasi bahan kemasan.
Winarno, et al. (2005) menyatakan bahwa kenaikan gula disebabkan hidrolisis pati menjadi sukrosa, glukosa, dan fruktosa, dan kecapatan hidrolisis ini lebih besar dibandingkan kecepatan perubahan glukosa menjadi CO2 dan H2O serta energi sehingga dalam jaringan buah terjadi penimbunan glukosa selama penyimpanan. Penurunan gula total selama penyimpanan disebabkan buah manggis seperti pada penelitian Winarno et al (2005) mulai melewati masa pematangan. Pada tahap ini diduga kadar pati sudah sedikit dan aktivitas enzim invertase sudah mulai menurun sehingga jumlah kadar gula pereduksi yang terbentuk juga menurun.
                       


           





BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Berdasarkan serangkaian praktikum dan pengamatan maka dapat ditarik beberapkesimpulan, yaitu
  1. Pengemasan dengan plastik LDPE tidak seluruhnya mampu mengurangi proses metabolisme dari produk hortikultura
  2. Rata-rata pengemasan plastik masih terdapat sisa udara pada kemasan, sehingga produk masih dapat berespirasi.

5.2 Saran
            Berdasarkan praktikum kali ini, maka saran yang diberikan untuk perbaikan kedepannya, sebaiknya dalam pengemasan plastik tidak dilakukan dengan menyisakan udara dalam kemasan (terjadi penggembungan) karena mengakibatkan produk mengalami pembusukan lebih cepat. Kemudian sebaiknya dalam mengamati parameter dilakukan secara teliti, supaya data yang didapat adalah akurat, mengingat pengamatan yang dilakukan adalah secara subjektif.














DAFTAR PUSTAKA

Hasbi, et al. 2005. Masa Simpan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Pada Berbagai Tingkat Kematangan, Suhu, dan Jenis Kemasan. Teknol.dan Industri Pangan, 17(3):199-205.
Rosalina, Yessy. 2011. Analisis Konsentrasi Gas Sesaat Dalam Kemasan Melalui Lubang Berukuran Micro Untuk Mengemas Buah Segar Dengan Sistim Kemasan Atmosfir Termodifikasi. Agrointek, 5(1):53-58.
Sacharow S, Griffin R. 1970. Food Packaging. Connecticut, AVI Publishing Co.
Samad, M. Yusuf. 2006. Pengaruh Penanganan Pasca Panen Terhadap Mutu Komoditas Hortikultura. Sains dan Teknologi Indonesia, 8(1):31-36.
Sarwono, B. Dan Yen Pieter Saragih. Membuat Aneka Tahu. Penebar Swadaya, Jakarta.  
Winarno dan Jenie, B. S. L. 1982. Kerusakan Bahan Bangan dan Cara Pencegahannya. Ghalia Indonesia, Bogor.






























No Response to "MODIFIKASI ATMOSFER DENGAN PENGEMASAN UNTUK PRODUK HORTIKULTURA"

Poskan Komentar