Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart


SWASEMBADA BERAS SEBAGAI UPAYA PEMECAHAN MASALAH  KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA


 Bayu Gusti Saputra 111510501152




FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER
2012



SWASEMBADA BERAS SEBAGAI UPAYA PEMECAHAN MASALAH  KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA

1.    PENDAHULUAN
Setiap mahluk hidup di dunia ini membutuhkan pangan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Ketahanan pangan bukan hanya masalah “cukup makan”. Lebih jauh dari itu, pemenuhan hak atas pangan dapat dipandang sebagai salah satu pilar utama hak azasi manusia. Dalam PP No 68 tahun 2002, tentang Ketahanan Pangan, dinyatakan bahwa ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting dalam rangka pembangunan nasional (Edi,2008)
Ketahanan pangan merupakan salah satu faktor penentu dalam stabilitas nasional suatu negara, baik di bidang ekonomi, keamanan, politik dan sosial. Oleh sebab itu, ketahanan pangan merupakan program utama dalam pembangunan pertanian saat ini dan masa mendatang.
Ketahanan pangan sendiri memiliki 5 unsur yang harus dipenuhi :
1. Berorientasi pada rumah tangga dan individu setiap manusia,
2. Dimensi watu setiap saat pangan tersedia dan dapat diakses, ,
3. Berorientasi pada pemenuhan gizi,
4. Ditujukan untuk hidup sehat dan produktif.
Salah satu solusi yang dapat ditawarkan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan adalah dengan melakukan Swasembada Beras. Sebagai bahan pangan utama di Indonesia, beras dibutuhkan oleh lebih dari 90% penduduk. Dewasa ini kebutuhan pangan nasional dipenuhi dari produksi beras dalam negeri. Pada saat terjadi anomali iklim seperti kekeringan atau ledakan hama-penyakit yang berdampak terhadap penurunan produksi, sebagian kebutuhan pangan dipenuhi dari impor. Idealnya, kebutuhan beras nasional dipenuhi dari produksi dalam negeri mengingat jumlah penduduk yang terus bertambah dengan laju pertumbuhan yang masih cukup tinggi dan tersebar di berbagai pulau. Kalau mengandalkan beras impor maka ketahanan pangan akan rentan dan berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan, terutama ekonomi, sosial, dan politik. Oleh karena itu, upaya peningkatan produksi padi perlu lebih digalakkan. Ditinjau dari ketersediaan sumber daya lahan dan teknologi yang telah dan akan dihasilkan
melalui penelitian, Indonesia memiliki peluang meningkatkan produksi padi menuju swasembada beras yang berkelanjutan.
Hambatan Dalam Program Swasembada Pangan
Program swasembada pangan masih bergantung pada luasan lahan yang tersedia. Dalam menuju swasembada pangan nasional seperti kedelai, jagung, padi, gula, semuanya masih bergantung pada luas lahan yang ada. Tanpa ada realisasi perluasan lahan, mustahil target swasembada pangan 2014 terwujud. Dalam memenuhi swasembada pangan, Indonesia masih membutuhkan lahan sekitar 3 juta Ha. Target produksi padi (GKG) pada 2014 adalah 75 juta ton dari 64 juta ton sekarang. Jagung dari 17 juta ton menjadi 29 juta ton, kedelai pada 2014 ditargetkan 2,7 juta ton. Begitu industri gula sekarang baru 2,3 juta ton ditargetkan naik menjadi 3,6 juta ton pada tahun 2014.
Oleh karena itu menurut kami, Swasembada pangan terkendala pada keterbatasan lahan. Lahan yang dimiliki petani umumnnya hanya beberapa m2 dan jarang yang mencapai 1 hektar. Kondisi lain petani menjadikan satu lahan pertanian untuk menanam berbagai komoditas tanaman pangan secara bergantian. Akibatnya, Indonesia selalu menghadapi persoalan dilematis dalam upaya peningkatan produktivitas tanaman.Jika menginginkan produksi padi, produksi kedelai akan turun. Sebab, lahan diambil untuk pertanaman kedelai. Juga sebaliknya, karena kedua komoditas ini ditanam saling menggantikan. Sebenarnya Badan Pertanahan Nasional (BPN) telah menjanjikan lahan 2 juta ha dari total lahan terlantar 7,3 juta ha untuk pertanaman pangan. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan soal lahan itu.
Selain keterbatasan lahan, kendala lain yang dihadapi mencapai swasembada pangan masih tinggi alih fungsi atau konversi lahan pertanian ke non pertanian. Saat ini, konversi lahan pertanian mencapai 100.000 ha per tahun, sedang kemampuan pemerintah menciptakan lahan baru maksimal 30.000 ha. Hingga setiap tahun justru terjadi pengurangan luas lahan pertanian. Sementara perubahan cuaca tidak menentu dan keterbatasan anggaran juga berdampak terhadap upaya swasembada beras.
Pada tingkat petani masalah petani juga semakin banyak. Masalah tersebut diantaranya: rendahnya pengetahuan atau wawasan, rendahnya tingkat keterampilan, kurangnya motivasi, tidak memiliki kemampuan pengelolaan usaha tani, kurangnya dukungan atas modal dan sarana produksi usahatani, kurangnya dukungan kebijakan pemerintah, jarang mendapatkan bimbingan dan conseling berupa penyuluhan dan tidak adanya wahana atau tempat petani untuk belajar untuk meningkatkan kemapuan yang dibutuhkannya
Menemukan atau merancang berbagai solusi alternatif untuk memecahkan hambatan-hambatan dalam program swasembada beras memerlukan kerjasama yang menyeluruh antar pihak-pihak yang terlibat. Tidak hanya masalah teknis oleh petani sendiri, swasembada beras juga terhambat oleh masalah-masalah lain seperti, kebijakan pemerintah yang memperbolehkan BULOG untuk mengimpor beras. Selain itu masalah lain juga timbul dari agen penyuluh pertanian, Departemen Pertanian, Lembaga Pendidikan, Importir, dan bahkan kebijakan pemerintah. Masalah yang perlu dihadapi untuk mewujudkan swasembada beras di Indonesia memang sangat kompleks, dan perlu kerja sama menyeluruh antar agen pertanian dan solusi-solusi tepat agar terciptanya swasembada beras. Agen pertanian tersebut diantaranya adalah :
1.      Petani
2.      Penyuluh Pertanian
3.      Lembaga Pendidikan
4.      Deptan
5.      Pemerintah, dll
Agen pertanian tersebut harus dipandang rata dan saling bekerjasama, agar terciptanya program swasembada beras. Mereka harus bisa mengatasi kompleksitas permasalahan yang dihadapi dan merancang solusi-solusi alternatif yang berkualitas dan dapat memecahkan masalah yang dihadapi program swasembada beras. Selain itu, solusi-solusi tersebut haruslah dapat diterima oleh berbagai pihak yang terkait. Berikut adalah skema agen pertanian yang harus bekerjasama antar sesama dan tidak mementingkan salah satu pihak, agar tercipta swasembada beras.
Description: http://www.anaklima.com/assets/gallery/images/big/4ce0f03790380.jpgDescription: https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR07thvfoa7WZhKJmUzuEew2Out-wQIykyuI2E1LlRgFTCZXVAovg



Description: https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQFTQXsf7z9olAwnAE-qrB-UUqcUlF3Whw1S-p78fc8VKa2fFmk
Description: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRtmwUawG_GxRQ7Oj3jnWeO9H3zqwPxC0Yh-tT6d3BeaCJqAjrFkw









Description: http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTBOslTEYCReO8Ya-x_dLv0MaLd7LTDHlgwiHL1Ny1jyRuM9paLVizjvPZm
Description: http://panel.mustangcorps.com/admin/fl/upload/files/toga.jpg





Swasembada beras bukanlah hal yang mustahil apabila ada keseriusan dari semua pihak bahkan kita harus mempunyai visi yang jauh kedepan. Indonesia tidak hanya dapat mewujudkan swasembada beras tetapi juga dapat menjadi negara pengekspor beras. Dengan dukungan teknologi dan infrastruktur yang ada dan dengan melihat banyak peluang maka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai swasembada yang berkesinambungan. Dan satu hal yang perlu ditekankan sekali lagi bahwa swasembada tidak berarti apa-apa apabila petani tetap menderita dalam kemiskinan karena tujuan akhir dari swasembada adalah sejahteranya petani dan mereka mampu berdikari.

SWASEMBADA BERAS SEBAGAI UPAYA PEMECAHAN MASALAH  KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA

II. PEMBAHASAN
Swasembada beras berarti mampu memenuhi kebutuhan akan beras bagi seluruh masyarakat dalam dan diharapkan bertahan dalam waktu. Sebagai bangsa besar yang dikenal sebagai negara agraris, swasembada beras merupakan sebuah kewajiban untuk diwujudkan tanpa boleh ditawar lagi. Selama ini Indonesia selalu bergantung pada negara lain untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional. Dalam sejarah negara Indonesia hanya pernah dua kali mencapai swasembada beras. Sungguh ironis sebagai negara besar yang mempunyai predikat sebagai negara agraris setiap tahunnya harus mengandalkan negara lain untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.
 Kewajiban untuk mencapai swasembada beras bukan hanya pada petani, akan tetapi pihak akademisi, penyuluh, Deptan, dan pemerintah juga dituntut kinerjanya untuk mengembangkan dunia pertanian. Ada banyak cara yang dapat ditempuh agar tercapai swasembada beras secara berkesinambungan. Pemerintah tidak boleh secara sepihak membuat kebijakan, harus ada mediasi terlebih dahulu dengan pihak akademisi sebagai konsultan dan petani sebagai aktor utama agar tidak terjadi lagi kesalah pahaman antar ketiganya. Swasembada beras bukanlah hal yang mustahil apabila ada keseriusan dari semua pihak bahkan kita harus mempunyai visi yang jauh kedepan bahkan kita tidak hanya dapat mewujudkan swasembada beras tetapi juga dapat menjadi negara pengekspor beras.  Berikut adalah peran agen pertanian yang diharapkan dapat mewujudkan Indonesia berswasembada beras.
1.      Mengutamakan petani karena mereka adalah subjek utama.
2.      Memaksimalkan kinerja penyuluh pertanian.
3.      Penerapan dari inovasi-inovasi hasil penelitian akademisi dan lembaga penelitian.
4.      Menghentikan ulah importir beras, dan mengalihkan dana impor untuk pertanian lokal.
5.      Kebijakan pemerintah yang mengutamakan pertanian.

2.1         Mengutamakan Petani Karena Mereka Adalah Subjek Utama
Description: http://salafiyunpad.files.wordpress.com/2010/11/petani.jpg
Setiap mendengar berita tentang impor beras di televisi, Petani Indonesia “dipaksa” melupakan memori indah kejayaan pangan pada dekade 80-an, masa dimana Indonesia mengukir prestasi gemilang di bidang pertanian dengan meraih penghargaan dari organisasi pangan dunia FAO karena berhasil Swasembada Beras. Produksi beras yang sekitar 25 juta ton lebih pada tahun 1986, meningkat 100% dibanding produksi pada tahun 1969, prestasi yang luar biasa pada waktu itu. Dirjen FAO Edouard Saouma datang khusus ke Jakarta untuk menyerahkan Penghargaan dunia tersebut, Prestasi yang sampai tahun ini (2012) belum bisa dicapai lagi.
Siapakah yang berperan atas prestasi besar tersebut? merekalah Petani Indonesia, Petani yang bangga akan profesinya dan antusias dalam bercocok tanam, tidak kalah pula andil besar pemerintah dalam mendorong kemajuan dunia pertanian pada waktu itu. Namun sekarang melihat kondisi pertanian kita yang semakin memprihatinkan, dan tak mampu lagi meningkatkan kapasitas produksinya, berbagai pihak mulai mempertanyakan kebijakan Impor beras, yang dianggap kebijakan transaksional dan membunuh inisiatif meningkatkan produksi beras dalam negeri.
Bagaimana dengan Petani sendiri ? merekalah subjek utama sekaligus objek dari berbagai kebijakan pangan Pemerintah, Petani sendiri menghadapi kesulitan yang tidakak kalah pelik selain dari pemerintah (terkait kebijakan), perubahan iklim yang ekstrem, irigasi, pengalihan lahan pertanian, dll. Padahal Pertanian telah menjadi pekerjaan bagi sekitar 59 juta penduduk kita, bisa dibayangkan apabila 1 saja kebijakan terkait pertanian yang kurang tepat bisa mempengaruhi kehidupan 59 juta rakyat Indonesia.

Melihat kehidupan mereka (Petani) akan membuat kita menghela napas panjang, mulai dari angkatan tenaga kerja pertanian yang banyak diisi oleh generasi sepuh karena pemuda-pemudanya banyak yang merantau ke kota.Anggapan profesi petani bukan lagi sesuatu yang menjanjikan bagi generasi muda kita, tapi khusus persoalan ini secara global memang sedang menjadi tren, ini ditunjukkan dengan penurunan minat anak muda untuk menjadi Sarjana Pertanian. Berikutnya, Penguasaan lahan pertanian yang sangat kecil, rata - rata Petani Indonesia hanya menguasai setengah hektar saja, tidak itu saja, alih fungsi lahan terus menggerus lahan pertanian. Tiap tahunnya diperkirakan sekitar 110.000 hektar lahan pertanian beralih fungsi tak terkecuali di pedesaan juga, jika di pinggiran perkotaan lahan banyak diambil alih oleh pengembang Real Estate maka di Pedesaan alih fungsi banyak dilakukan secara personal juga untuk hunian. Jaringan Irigasi yang sekarang digunakan kebanyakan merupakan Peninggalan Pembangunan pada masa Orde baru seperti yang saya ceritakan diatas, dari tahun ke tahun jalurnya semakin tergusur pemukiman, Sawah kebanjiran di Musim Penghujan dan kekeringan di Musim Kemarau, ditambah dengan perubahan iklim  membuat cuaca lebih sulit untuk diprediksi yang sedikit banyak turut mempengaruhi pola dan masa bercocok tanam petani, berbagai kesulitan yang dihadapi Petani saat ini pada akhirnya menurunkan tingkat produksi Beras nasional kita.
Pada akhirnya peningkatan produksi pangan dan program swasembada beras tak bisa dilepaskan dari peran petani, jika ingin meraih kedaulatan pangan berarti Pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan petani, saya yakin kesejahteraan Petani berbanding lurus dengan peningkatan produksi pangan nasional, bukan hanya pemerintah pusat namun juga daerah.

2.2 Memaksimalkan Kinerja Penyuluh Pertanian.
Kegiatan penyuluhan pertanian di Indonesia dilaksanakan oleh Departemen Pertanian resmi dimulai 1 Januari, 1905. Di daerah, tugas tersebut dilaksanakan oleh Pangereh Praja atas perintah kepada petani. Pada tahun 1921, kegiatan penyuluhan dilaksanakan oleh Dinas Penyuluhan Pertanian, dalam bidang tanaman pangan dan perkebunan, disamping perkereditan.
Tujuan penyuluhan pertanian adalah dalam rangka menghasilkan SDM pelaku pembangunan pertanian yang kompeten sehingga mampu mengembangkan usaha pertanian yang tangguh, bertani lebih baik (better farming), berusaha tani lebih menguntungkan (better bussines), hidup lebih sejahtera (better living) dan lingkungan lebih sehat. Penyuluhan pertanian dituntut agar mampu menggerakkan masyarakat, memberdayakan petani, pengusaha pertanian dan pedagang pertanian, serta mendampingi petani untuk:
(1)          Membantu menganalisis situasi-situasi yang sedang petani hadapi dan melakukan perkiraan ke depan.
(2)          Membantu petani menjawab masalah.
(3)          Membantu petani memperoleh pengetahuan/informasi guna memecahkan masalah.
(4)          Membantu petani mengambil keputusan, dan
(5)          Membantu petani menghitung besarnya risiko atas keputusan yang diambilnya.
(6)          Menghubungkan antara pemerintah dengan petani.
Keberhasilan penyuluhan pertanian dapat dilihat dengan indikator banyaknya petani, pengusaha pertanian dan pedagang pertanian yang mampu mengelola dan menggerakkan usahanya secara mandiri, ketahanan pangan yang tangguh, tumbuhnya usaha pertanian skala rumah tangga sampai menengah berbasis komoditi unggulan di desa. Selanjutnya usaha tersebut diharapkan dapat berkembang mencapai skala ekonomis. Semua itu berkorelasi pada keberhasilan perbaikan ekonomi masyarakat, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, lebih dari itu akan bermuara pada peningkatan pendapatan daerah. Penyuluh Pertanian pernah berhasil membawa Indonesia swasembada beras pada tahun 1984, ketika dimulai Program Bimbingan Massal (BIMAS) dengan memasyarakatkan teknologi intensifikasi petanian yang mencapai puncaknya pada 1984 ketika kita berswasembada beras. Keberhasilan tersebut merupakan prestasi tertinggi dunia penyuluhan di indonesia.
Namun kini setelah dua dekade petani kita masih miskin, jauh dari sejahtera. Dari kondisi ini sudah sepatutnya muncul semangat bahwa upaya penyuluhan pertanian juga dapat mengubah wajah SDM pertanian di Indonesia saat ini dan kedepan membawa Indonesia berswasembada beras. Kurangnya jumlah penyuluh di Indonesia merupakan salah satu penyebab para petani kurang mampu memecahkan berbagai masalahnya. Oleh karena itu pemerintah harus memulai lagi memperhatikan para penyuluh pertanian. Salah satu solusinya adalah meningkatkan jumlah penyuluh pertanian yang berkompeten melalui lulusan Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP). Kemudian peran Dinas Pertanian tiap daerah juga sangat diperlukan dalam menciptakan penyuluh-penyuluh pertanian,dengan jumlah yang memadai dan kemampuan yang baik.  
Description: http://www.bakorluh-maluku.com/wp-content/uploads/2011/05/hortikultura1.jpgBerdasarkan beberapa pendapat ahli pertanian, salah satu kunci swasembada beras adalah harus terjadi revolusi dalam dunia peyuluhan di Indonesia. Para Penyuluh Pertanian masa depan harus mampu mengantisipasi perubahan IPTEK pertanian, dengan kapasitas dan kapabilitas memadai. Selain itu jumlah penyuluh pertanian yang mencukupi setiap aerah di Indonesia, diyakini dapat mempercepat program swasembada beras.
Description: http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS25ArmM3xM8oiJ0Euc3hVv6F-m6e9_mu1ctW8jX_3q2Ep3hFngrro7kI3U8g
 









Gambar 1. Peran penyuluh pertanian sangat diharapkan dalam mensukseskan program swasembada beras.


2.3         Penerapan Inovasi-Inovasi Hasil Penelitian Akademisi dan Lembaga Penelitian.
Letak lembaga pendidikan dalam program swasembada beras dapat digambarkan berada ditengah-tengah.  Lembaga pendidikan harus mampu menemukan inovasi-inovasi terbaru dalam bidang produksi beras di Indonesia. Sampai saat ini peran lembaga pendidikan dirasa belum maksimal dalam membantu para petani. Bahkan meskipun banyak hasil thesis tentang pertanian khusunya tanaman padi, kertas-kertas tersebut hanya berhenti di atas meja. Realisasi penemuan-penemuan oleh mahasiswa, akademisi, dan beberapa lembaga penelitian sangatlah sedikit, bahkan dapat dikatakan tidak diwujudkan. 
Namun, ada beberapa inovasi dan teknologi yang telah ditemukan oleh beberapa lembaga pendidikan dan mampu menberikan kontribusi positif bagi produksi padi diIndonesia. Inovasi tersebut diantaranya adalah :
1.             Penemuan Benih-Benih  Padi Varietas Unggul
Varietas unggul merupakan salah satu teknologi inovatif yang handal untuk meningkatkan produktivitas padi, baik melalui peningkatan potensi atau daya hasil tanaman maupun toleransi dan ketahanannya terhadap cekaman biotik dan abiotik. Varietas padi juga merupakan teknologi yang paling mudah diadopsi karena teknologinya murah dan penggunaannya sangat praktis (Badan Litbang Pertanian 2007).
Pada periode 2000 – 2006, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah melepas 38 varietas unggul padi sawah terdiri dari 28 varietas unggul baru = VUB, 3 semi varietas unggul tipe baru = semi VUTB, 1 varietas unggul tipe baru = VUTB, dan 6 varietas unggul hibrida = VUH.
Menurut Badan Litbang Pertanian secara umum padi VUB dikelompokkan menjadi 6 kelas yaitu:
 (1) Varietas unggul produktivitas tinggi.
Produktivitas tinggi seperti padi unggul hibrida (VUH) Maro, Rokan, Hipa-3, Hipa-4, Hipa-5 Ceva, dan Hipa 6 Jete memiliki produktivitas yang lebih tinggi daripada IR64 di daerah bukan endemik hama dan penyakit, padi semi VUTB Gilirang, Cimelati, dan Ciapus serta padi VUTB Fatmawati mempunyai keunggulan antara lain jumlah anakan lebih sedikit tetapi semuanya produktif, batang kokoh, daun tegak dan tebal, jumlah gabah >250 butir per malai dabn potensi hasil 10 = 15 ton/ha. Ratio gabah/jerami >0,5 sehingga efisien dalam penggunaan hara.
 (2) Varietas unggul hasil stabil.
Untuk mengatasi cekaman biotik dan abiotik yang mempengaruhi stabilitas hasil telah dihasilkan varietas tahan hama wereng coklat dengan rasa nasi yang disukai kebanyakan konsumen (Membramo, Widar, Ciherang dan Cimelati), varietas tahan virus tungro (Tukad Petanu, Tukad Unda, Tukad Balian, Kalimas dan Bondoyudo), dan varietas tahan penyakit hawar daun bakteri (Angke dan Code).
 (3) Varietas unggul cita rasa.
Untuk memenuhi kesukaan konsumen akan cita rasa nasi pulen dan produktivitasnya lebih tinggi daripada IR64 tersedia varietas Ciherang, Mekongga, Cibogo, dan Cigeulis, sedangkan untuk memenuhi kesukaan konsumen akan tekstur nasi pera telah dihasilkan varietas Batang Lembang dan Batang Piaman.
 (4) Varietas unggul mutu gizi.
 Konsumen dalam memilih beras selain mempertimbangkan cita rasa ada juga yang mempertimbangkan kandungan gizi dan aspek kesehatan. Untuk memenuhi kandungan gizi dan aspek kesehatan telah dihasilkan VUB beras merah yaitu Aek Sibundong. Keunggulan varietas ini antara lain potensi hasil tinggi (8 t/ha), umur genjah (110 – 120 hari), tahan wereng coklat biotif 2 dan 3 serta tahan penyakit hawar daun bakteri strain IV, citra rasa enak dengan tekstur nasi pulen, disamping kandungan vitamin B kompleks terutama kandungan asam folat tinggi.
 (5) Varietas unggul sawah dataran tinggi.
 Telah dihasilkan padi VUB untuk dataran sedang sampai tinggi yaitu varietas Sarinah. Varietas ini mempunyai potensi dan kualitasnya menyerupai Ciherang yang sangat digemari petani namun hanya cocok di tanam di dataran rendah, dan


(6) Varietas unggul genjah.
 Untuk mengatasi atau terhindar dari kekeringan sebagai dampak dari anomali iklim atau El-Nino adalah menanam varietas umur genjah. Telah dilepas varietas yang diperuntukkan bagi daerah yang masa tanamnya pendek seperti Silugonggo dan Ciujung. Disamping itu telah dilepas 9 (sembilan) padi VUB tahun 2008 yaitu 6 (enam) varietas padi untuk lahan
irigasi dan 3 (tiga) varietas untuk lahan rawa.
2. Penelitian Tentang Sistem Tanam Jajar Legowo
Sistem Tanam Jajar Legowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak tanam antar rumpun maupun antar barisan, sehingga terjadi pemadatan rumpun padi di dalam barisan dan memperlebar jarak antar barisan. Pada sistem jajar legowo dua baris semua rumpun padi berada di barisan pinggir dari pertanaman. Akibatnya semua rumpun padi tersebut memperoleh manfaat dari pengaruh pinggir (border effect). Meskipun penemuan ini hasil adopsi dari kearifan masyarakat lokal, namun setelah diadakan berbagai penelitian tentang sistem tanam padi jajar legowo, sistem ini ternyata dapat meningkatkan produksi padi yang signifikan dibandingkan sistem tanam padi yang biasa.
 Permana (1993), Mahasiswa IPB ini melaporkan bahwa rumpun padi yang berada di barisan pinggir hasilnya 1,5 – 2 kali lipat lebih tinggi dari produksi pada yang berada di bagian dalam. Keuntungan penanaman padi dengan sistem jajar legowo dua baris diantaranya:
1.             Semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir).
2.             Pengendalian hama, penyakit, dan gulma lebih mudah
3.             Penyediaan ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpul keong mas atau untuk mina padi, dan
4.             Penggunaan pupuk lebih berdaya guna.
Berikut terdapat tabel diatas menunjukkan bahwa sistem tanam jajar legowo meningkatkan produksi padi dibandingkan dengan sistem tanam padi biasa (tegel).  Berdasarkan hasil pengkajian menunjukkan bahwa tanam sistem jajar legowo dua baris dengan jarak tanam 20 x 10 x 40 cm dapat meningkatkan produksi antara 560 – 1.550 kg/ha dibandingkan dengan taman sistem tegel dengan jarak tanam 20 x 20 cm, dan R/Cmeningkat dari 1,16 menjadi 1,43 dengan peningkatan keuntungan Rp1.352.000/ha.
 















Hasil pengkajian yang dilaksanakan di Desa Palur Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo pada MT I 2007/2008 (November 2007-Maret 2008) menunjukkan bahwa dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo 4:1(empat baris) dapat meningkatlkan produktivitas padi varietas Cisantana rata-rata ± 1,03t/ha atau 18,00% dibandingkan dengan sistem tanam tegel.

 3. Penemuan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah
Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) merupakan pendekatan dalam pengelolaan lahan, air, tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT), dan iklim secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produktivitas, pendapatan petani dan kelestarian lingkungan. Prinsip PTT mencakup empat unsur yaitu integrasi, interaksi, dinamis dan partisipatif. Komponen teknologi dalam PTT dibagi menjadi dua, yaitu komponen teknologi dasar terdiri dari (1) varietas modern, (2) benih bermutu dan sehat, (3) pemupukan yang efisien, dan (4) PHT sesuai OPT sasaran, dan komponen teknologi pilihan terdiri dari pengelolaan tanaman, pupuk organik, irigasi berselang, pupuk cair, dan penanganan panen dan pascapanen (Lakitan,2001).
Hasil aplikasi PTT pada lahan sawah irigasi yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi sejak tahun 1999 di Sukamandi, menunjukkan bahwa peningkatan hasil padi yang diperoleh berbeda menurut tingkat dan skala luasan usaha. Selain itu, dengan PTT hasil gabah dan kualitas beras juga meningkat, biaya usahatani padi berkurang, kesehatan dan kelestarian lingkungan terjaga.
4.             Bioteknologi dalam Pertanian
            Adanya perbaikan sifat tanaman dapat dilakukan dengan teknik modifikasi genetik dengan bioteknologi melalui rekayasa genetika untuk memperoleh varietas unggul, produksi tinggi, tahan hama, patogen, dan herbisida. Perkembangan Biologi Molekuler memberikan sumbangan yang besar terhadap kemajuan ilmu pemuliaan ilmu tanaman (plant breeding). Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa perbaikan genetis melalu pemuliaan tanaman konvensional telah memberikan kontribusi yng sangat besar dalam penyediaan pangan dunia.
            Dalam bidang pertanian telah dapat dibentuk tanaman dengan memanfaatkan mikroorganisme dalam fiksasi nitogen yang dapat membuat pupuknya sendiri sehingga dapat menguntungkan pada petani. Demikian pula terciptanya tanaman yang tahan terhadap tanah gersang, selain itu masih banyak lagi penemuan-penemuan baru melalui rekayasa genetika dalam bidang pertanian. Namun selain memberikan dampak positif, penerapan bioteknologi dalam bidang pertanian juga menimbulkan beberapa dampak buruk, diantaranya
a.    Gen sintetik dan produk gen baru yang berevolusi dapat menjadi racun dan atau imunogenik untuk manusia dan hewan.
b.    Tanaman rekayasa genetik tahan herbisida mengakumulasikan herbisida dan meningkatkan residu herbisida sehingga meracuni manusia dan binatang seperti pada tanaman.
c.    Tidak ada pengurangan pengunaan pestisida, sebaliknya penggunaan pestisida tanaman rekayasa genetik meningkat 50 juta pound dari 1996 sampai 2003 di Amerika Serikat.
d.   Herbisida roundup mematikan katak, meracuni plasenta manusia dan sel embrio. Roundup digunakan lebih dari 80 persen semua tanaman rekayasa genetik yang ditanam di seluruh dunia.
            Sedangkan apa hubungannya bioteknologi dengan swasembada beras ? sama seperti pada prinsipnya, terdapat peluang baik dan ancaman buruk masuknya bioteknologi dalam pertanian padi. Varietas-varietas unggul telah ditemukan dengan berbagai keunggulan masing-masing. Namun terdapat suatu kecenderungan bahwa bioteknologi tidak terlepas dari muatan ekonomi. Muatan ekonomi tersebut terlihat dari adanya hak paten bagi produk-produk hasil rekayasa genetik, sehingga penguasaan bioteknologi hanya pada lembaga-lembaga tertentu saja. Hal ini memaksa petani-petani kecil untuk membeli bibit kepada perusahaan perusahaan yang memiliki hak paten. Oleh karena itu jika menginginkan Indonesia berswasembada beras, maka perlu adanya penemuan varietas-varietas unggul, dan pendistribusian bibit padi varietas unggul tersebut harus mendukung petani pai di Indonesia.
Description: http://spidercommunity.files.wordpress.com/2012/01/padi4.pngDescription: http://yuari.files.wordpress.com/2008/01/a2.jpg 







Gambar II. Penerapan sistem bioteknolgi diharapkan dapat berkontribusi positif dalam program swasembada beras.
4. Menghentikan Ulah Importir Beras, dan Mengalihkan Dana Impor Untuk Pertanian Lokal
Pusat Statistik mencatat sejak januari hingga Agustus 2011 Bulog sebagai badan stabilisator telah melakukan impor beras dengan jumlah impor beras yang masuk ke Indoensia mencapai 1,62 juta ton dengan nilai US$ 861,23 juta. Impor tertinggi pada periode Januari hingga Agustus 2011 berasal dari vietnam yang mencapai 905.930 ton atau 55,83%.  Kebijakan ini dirasa anomali, karena pemerintah dalam hal ini BULOG melakukan impor beras disaat terjadi panen raya (surplus beras). Selain itu bayangkan jika biaya impor yang sangat besar itu digunakan untuk peningkatan kualitas pengelolaan tanaman pangan terutama padi atau perluasan lahan (sawah). Ini akan memacu produksi dan menjamin kesejahteraan petani Indonesia.
Upaya pemerintah untuk meningkatkan kemandirian pangan membawa implikasi bahwa ketergantungan pemenuhan kebutuhan pangan nasional dari impor perlu dihindari. Potret pangan Indonesia saat ini mengindikasikan bahwa upaya mengurangi ketergantungan pada pangan impor merupakan tantangan yang berat, antara lain karena:
1.             Populasi warga Indonesia yang besar dan masih akan terus tumbuh 1,49 persen per tahun.
2.             Keterlanjuran konsumen tergantung pada pangan pokok beras.
3.             Usahatani komoditas pangan kalah kompetitif dibandingkan jenis usaha atau bidang pekerjaan yang lain.
4.             Harga pangan impor yang relatif rendah dibandingkan dengan ongkos produksi pangan serupa jika diproduksi di dalam negeri.
Untuk memenuhi kebutuhan beras nasional sebenarnya BULOG tidak harus mengimpor beras, karena sebenarnya kebijakan mengimpor beras teryata merugikan kaum petani di Indonesia. Harga jual gabah-gabah lokal yang semakin turun, diperkirakan merupakan imbas dari masuknya beras impor.  Jika pemerintah menginginkan swasembada beras, maka langkah yang diambil adalah mengurangi jumlah beras impor dan meningkatkan produksi beras lokal, hingga pada akhirnya Indonesia tidak lagi megimpor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan.

5.             Kebijakan Pemerintah yang Mengutamakan Pertanian.
          Dalam rencana strategis Kementerian Pertanian menempatkan beras, sebagai satu dari lima komoditas pangan utama. Kementerian Pertanian mentargetkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan atas tanaman pangan pada tahun 2010-2014 yakni padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar.
Namun tampaknya, program swasembada pangan, khususnya beras, tidak akan pernah terwujud selama jajaran pengambil kebijakan di pemerintahan lebih  mementingkan impor ketimbang memperluas lahan sawah dan membantu petani meningkatkan produksi. Swasembada beras tinggal ilusi setelah pernah diraih 1984 dan 2004 silam. Indonesia sebenarnya memiliki sarana dan prasarana lengkap dan dapat diandalkan untuk mendukung swasembada beras. Terlebih bila memperhitungkan lahan pertanian padi yang masih potensial dan luas, di samping jumlah sumber daya manusia (petani) banyak, produksi pupuk dan benih memadai, serta sistem irigasi yang sudah terbentuk sejak lama.
Tetapi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (pemda) serta seluruh pihak terkait malah terkesan memandang sebelah mata sektor pertanian tanaman pangan. Fakta paling gamblang tentang itu: lahan pesawahan termasuk yang beririgasi teknis terus menyusut secara signifikan akibat tergusur aneka kepentingan nonpertanian, terutama permukiman dan industri. Maka jangan sesali kalau produksi beras nasional cenderung menurun. Bahkan kalaupun berbagai faktor amat menunjang seperti iklim, pengendalian hama, juga penyediaan berbagai input produksi beras nasional sulit sekali ditingkatkan lagi. Produksi beras nasional boleh dikatakan sudah stagnan di level 50-an juta ton per tahun. Padahal konsumsi nasional, sebagai konsekuensi pertambahan penduduk, terus meningkat pasti dan begitu signifikan.

Kebijakan pemerintah selama ini dipandang tidak pernah memihak kepada petani. Petani hanya dipandang sebagai obyek pertanian dan bukan sebagai subyek pertanian. Satu kesalahan besar ketika kita memandang petani hanya sebagai obyek pertanian adalah kita akan selalu memanjakan petani dengan benih subdisi, pupuk subdisi, dan pestisida kimia tanpa kita memberikan pengetahuan kepada petani mengenai cara pembibitan sendiri, diajari cara pembuatan pupuk dan pestisida yang ramah lingkungan. Di satu sisi pemerintah harus menyediakan sarana prasarana bagi petani dan di sisi lain pemerintah juga tidak boleh terlalu memanjakan petani dengan berbagai benih, pupuk, dan pestisida sehingga petani tetap dapat berpikir kreatif dan tidak selalu bergantung kepada pemerintah dan perusahaan pertanian.
 Sejak dicanangkannya kebijakan revolusi hijau, petani diwajibkan menanan varietas padi tertentu. Akibatnya petani tidak pernah lagi membuat inovasi sendiri dan mandiri dalam membuat varietas padi sendiri. Dampaknya akan sangat terasa apabila varietas yang dijual oleh perusahaan benih misalnya dijual dengan harga yang sangat tinggi maka terpaksa mau tidak mau petani harus membeli karena petani tidak mampu membuatnya sendiri. Jadi untuk sekarang ini sebagian besar petani tidak mampu lagi untuk mandiri, berdikari dan berdaulat atas pertaniannya sendiri.
Di lain pihak, negara-negara seperti Thailand dan Vietnam terus berupaya keras meningkatkan produksi beras secara intensif. Bagi Indonesia, Thailand dan Vietnam kini menjadi sumber andalan bagi impor beras. Tapi celakanya, impor beras kini terkesan bukan lagi sekadar alternatif sementara. Impor beras seolah sudah menjadi andalan untuk mengamankan kebutuhan nasional. Di tengah produksi beras di dalam negeri yang cenderung stagnan atau bahkan terus menurun, sementara kebutuhan konsumsi mencatat grafik yang kian menanjak, pemerintah tidak cukup terlecut untuk bertindak habis-habisan menggerakkan upaya peningkatan produksi beras nasional. Pemerintah terkesan lebih merasa aman dan nyaman mengandalkan impor.

Terkait dengan pelaksanaan swasembada beras dalam rangka menunjang Ketahanan Pangan pada tahun 2011 diterbitkan Instruksi Presiden No. 5 tahun 2011 tentang Pengamanan Beras Nasional dalam Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim yang mengamanatkan kepada menteri terkait untuk melakukan upaya pengamanan produksi beras/gabah nasional dalam rangka menghadapi kondisi iklim ekstrim. Kementrian Pertanian dalam hal ini diinstruksikan oleh Presiden untuk mengambil langkah-langkah berikut:
a)      Melakukan analisa risiko dampak iklim ekstrim terhadap produksi dan distribusi gabah/beras serta mendeskriminasikan informasi kepada petani
b)      Meningkatkan luas lahan dan pengelolaan air irigasi untuk pertanian padi dalam mengantisipasi dan menghadapi kondisi iklim ekstrim
c)      Meningkatkan ketersediaan benih, pupuk, dan pestisida yang sesuai, baik dalam jenis, mutu, waktu, lokasi dan jumlah
d)     Meningkatkan tata kelola usaha tani, pengendalian organisme penganggu tumbuhan, penanganan bencana banjir, dan kekeringan pada lahan pertanian padi.
e)      Menyediakan dan menyalurkan bantuan benih, pupuk dan pestisida secara cepat serta bantuan biaya usaha tani, bagi daerah yang mengalami puso dan terkena bencana
f)       Meningkatkan alat dan mesin pertanian, baik dalam jumlah maupun mutu untuk mempercepat pengelolaan usaha tani padi.
g)      Meningkatkan alat dan mesin pertanian baik dalam jumlah maupun mutu untuk mempercepat pengelolaan usaha tani padi.
h)       Meningkatkan kegiatan pasca panen untuk mengurangi kehilangan hasil dan penurunan mutu gabah/beras pemerintah.
i)        Meningkatkan penganekaragaman konsumsi dan cadangan pangan, terutama dengan memanfaatkan sumber pangan lokal.
Dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 15/Permentan/Rc.110/1/2010 disebutkan dukungan utama untuk menunjang keberhasilan pencapaian target swasembada Beras yakni:
a.         Penyediaan pupuk (subsidi dan non-subsidi): urea 35,15 juta ton, SP-36 22,23 juta ton, ZA 6,29 juta ton, KCL 13,18 juta ton, NPK 45,99 juta, dan organik 53,09 ton.
b.         Subsidi: pupuk, benih/bibit dan kredit/bunga.
c.         Perluasan lahan baru-baru 2 juta ha untuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, hijauan makanan ternak dan padang penggebalaan.
d.        Investasi pemerintah dan swasta di bidang pertanian lokal.

Di Indonesia memang terdapat banyak peraturan yang mendukung pertanian, kebijakan-kebijakan diatas hanya sedikit dari berbagai kebijakan yang telah diputuskan. Namun, penerapan hampir tidak ada sama sekali. Bagi pemerintah, tercapainya swasembada adalah suatu kewajiban dan masyarakat juga berkewajiban membantu petani dalam masalah transfer ilmu pengetahuan kepada petani serta ilmu tentang politik pertanian agar petani selanjutyna tidak hanya pandai bertani tetapi juga mengetahui ilmu politik dan berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dalam dunia pertanian (Hutahuruk,1996).
Swasembada pangan (beras) tahun 2008 (menurut data statistik) dijadikan ajang rebutan buat kampanye. Apakah itu bulog, menteri, partai politik, bahkan presiden ikut-ikutan mengklaim. Sebenarnya itu memang tugasnya mereka jadi bukan prestasinya kalau seumpama memang benar-benar swasembada terjadi. Lalu apa hebatnya, dan apa gunanya swasembada kalau tetap saja petani dan rakyat tetap menderita. Swasembada hanya jalan, bukan tujuan akhir, karena tujuan akhirnya yaitu kesejahteraan yang merata untuk semua rakyat indonesia terlebih bagi petani sebagai pahlawan swasembada walau tanpa ada yang mengakuinya, bukan menteri bahkan presiden apalagi partai politik.
 Kesadaran kolektif semacam inilah yang harus benar-benar dimiliki oleh setiap individu di negara kita. Pemerintah selalu membangga-banggakan diri dengan swasembada beras agar mendapat pujian dan penghargaan dari masyarakat internasional, akan tetapi masalah kesejahteraan petani dinomor duakan.
III. KESIMPULAN

Kunci keberhasilan peningkatan produksi padi dan swasembada beras adalah saling bekerjasamanya semua agen pertanian dengan satu tujuan yang sama. Semua permasalahan yang timbul dari setiap subjek harus segera ditemukan solusinya karena masalah yang dihadapi untuk swasembada beras sangatlah kompleks.
Namun pada dasarnya untuk mencapai swasembada beras adalah
1.        Harus ditingkatkannya gairah petani padi sendiri untuk menanam padi.
2.        Dukungan penyuluhan pertanian dan pendampingan kepada petani.
3.        Penerapan dari inovasi-inovasi hasil penelitian akademisi dan lembaga penelitian yang berpihak kepada petani.
4.        Penyediaan sarana prasarana yang dapat dengan mudah dan murah diakses petani serta harga jual gabah maupun beras yang layak, akan segera berimbas pada penurunan impor beras.
5.        Dengan adanya kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani, maka petani akan semakin rajin untuk menanam padi dan tidak akan berpikir untuk berpindah menanam tanaman lainnya atau berpindah mata pencaharian .
Pada dasarnya solusi tersebut masih sebagian kecil dari berbagai masalah yang harus dihadapi untuk mewujudkan swasembada beras. Swasembada beras bukanlah hal yang mustahil apabila ada keseriusan dari semua pihak bahkan kita harus mempunyai visi yang jauh kedepan , kita tidak hanya dapat mewujudkan swasembada beras tetapi juga dapat menjadi negara pengekspor beras. Dengan dukungan teknologi dan infrastruktur yang ada dan dengan melihat banyak peluang maka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai swasembada yang berkesinambungan. Dan satu hal yang perlu ditekankan sekali lagi bahwa swasembada tidak berarti apa-apa apabila petani tetap menderita dalam kemiskinan karena tujuan akhir dari swasembada adalah sejahteranya seluruh warga negara tertutama petani dan mereka mampu berdikari.

DAFTAR PUSTAKA
Edi, Krisnamurti. 2008. “Agenda Pemberdayaan Petani dalam Rangka Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional”. Jurnal Ekonomi Rakyat. Vol.4(2):171-177.

Hutauruk, J. 1996. Dampak Kebijakan Harga dasar Padi dan Subsidi Pupuk Terhadap Permintaan dan Penawaran Beras di Indonesia. Skripsi. IPB, Bogor.

Icha ,Garnisah. 2012. “ Swasembada Pangan” (online), (file:///D:/SWASEMBADA%20PANGAN%20%C2%AB%20Sidik's%20Blog.htm. diakses tanggal 24 September 2012).

Lakitan, Benyamin. 2001. Kebijakan Riset Dan Teknologi untuk Pencapaian Ketahanan Pangan  dan Peningkatan Kesejahteraan Petani 1. Jurnal Pertanian. Vol Vol.14(3).27-30.

Margono Slamet. 2000. “Pemantapan Posisi dan Meningkatkan Peran Penyuluhan Pembangunan dalam Pembangunan”. Dalam: Pemberdayaan Sumberdaya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat Madani.. Proseding Seminar Nasional. September 2000. Bogor. Pustaka Wirausaha Muda.

 

Permana. 1993. Efektivitas Sistem Tanam Jajar Legowo dalam meningkatlkan produktivitas padi varietas Cisantana. (Kasus : Petani Padi Pandan Wangi di Desa Palur Kecamatan Mojolaban Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten       Cianjur). Skripsi. IPB, Bogor.

PERHIPTANI. 2012. “Peran Penyuluh” (online), file:///D:/peranan-penyuluhan-pertanian-dalam.html. diakses tanggal 24 September 2012.

Santoso, Eko .2012. “ Menjadi Indonesia”  (online), file:///D:/Swasembada%20Beras%20dan%20Kesejahteraan%20untuk%20Indonesiaku%20_%20KEM2011.htm. diakses tanggal 24 September 2012.


Soedijanto Padmowihardjo. 2005. ” Penyuluhan sebagai Pilar Akselerasi Pembangunan Pertanian di Indonesia pada Masa Mendatang”. Dalam: Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Proseding Seminar Nasional. Bogor: IPB Press.

No Response to " "

Poskan Komentar