Featured Products

Vestibulum urna ipsum

product

Price: $180

Detail | Add to cart

Aliquam sollicitudin

product

Price: $240

Detail | Add to cart

Pellentesque habitant

product

Price: $120

Detail | Add to cart

BATAS KRITIS UNSUR HARA (N) DAN PENGUKURAN KANDUNGAN KLOROFIL PADA TANAMAN



UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN DASAR

LAPORAN PRAKTIKUM

NAMA                                               : BAYU GUSTI SAPUTRA
NIM                                                    : 111510501152
GOL/KELOMPOK                          : KAMIS/4
ANGGOTA                                       : 1. M. NUR YASIN              111510501121
                                                              2. FAISHAL IRFANDI      111510501147
                                                              3. NOVIA  AYU S               111510501151
                                                              4. BAYU GUSTI S              111510501152
                                                              5. ANGGI RAHAY U W    111510501153
                                                              6. YULI ARISTA                111510501154
  JUDUL ACARA                             : BATAS KRITIS UNSUR HARA (N)
                                                              DAN PENGUKURAN KANDUNGAN
                                                              KLOROFIL PADA TANAMAN
TANGGAL PRAKTIKUM             : 12 APRIL 2013
TANGGAL PENYERAHAN          : 14 APRIL 2013

ASISTEN                                           : 1. MOH. AMINNUDDIN
                                                              2.  ASRI RINA H
                                                              3. FAJAR FIRMANSYAH
                                                              4. FAKHRUSY ZAKARIYYA
                                                              5. KHUSNUL KHOTIMAH
                                                              6. NORMA LAILATUN NIKMAH




BAB 1. PENDAHULUAN
1.1    Latar belakang
Petani di Indonesia memiliki kecenderungan hanya memasok unsur N ke dalam tanah melalui pupuk urea. Hal tersebut terbukti bahwa pupuk urea menduduki peringkat tertinggi tingkat penjualan pupuk buatan. Padahal kebutuhan N pada tanaman ada batasannya dan tidak hanya unsur N saja yang dibutuhkan dalam proses metabolisme dan fisiologis tanaman. Meskipun memamang benar bahwa unsur hara N merupakan unsur hara makro yan bersifat esensial dan mutlak dibutuhkan oleh tanaman. Fungsi dari unsur N juga tidak bisa digantikan oleh unsur hara lain, dan apabila unsur ini tidak terpenuhi maka tanaman tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya secara normal. Namun lepas dari segala manfaat dan pentingnya unsur N, jika kandungan unsur N telah melebihi batas kebutuhan tanaman, justru keracunan yang akan dialami oleh tanaman. Selain itu dampak negatif lain yang muncul akibat kelebihan unsur N akan menimbulkan gejala daun berubah pucat dan mudah rontok, pertumbuahan tanaman terhambat, fase vegetatif terlalu lama dan tanaman tidak kunjung berbuah kemudian yang terjadi adalah klorosis dan diikuti nekrosis (kematian).
Pada dasarnya unsur N (nitrogen) telah tersedia di alam sehingga dapat mencukupi untuk pertumbuhan dan metabolisme tanaman. Tetapi tingkat ketersediaan unsur N di suatu tempat tidak akan sama dengan tempat lain, ada yang tergolong cukup atau kaya akan unsur N sehingga tanaman akan tumbuh subur disekitarnya, ada pula yang kekurangan unsur N sehingga pertumbuhan tanaman tersebut akan terhambat. Setiap tanaman juga tidak akan sama kebutuhan akan unsur haranya. Tanaman budidaya termasuk dalam jenis tanaman yang membutuhkan unsur hara yang kompleks, hal tersebut karena dengan sengaja pada suatu lahan secara bersamaan ditanami tanaman tertentu sehingga dibutuhkan unsur hara yang sama dan merata pada setiap tanaman. Namun setiap hari persediaan unsur hara di alam jumlahnya akan terus berkurang, yang jelas diakibatkan oleh penyerapan tanaman itu sendiri. Oleh karena itu para petani secara intensif akan melakukan pemupukan untuk mencukupi kebutuhan hara tanamannya.
            Ketika tanaman memasuki masa vegetatif, maka tanaman sangat membutuhkan unsur hara N, sehingga saat itu unsur hara N berperan vital bagi tanaman. Unsur hara ini memiliki fungsi utama mensintesis klorofil yang kemudian digunakan tanaman dalam proses fotosintesis. Klorofil merupakan komponen terpenting tanaman yang menjadikan tanaman dapat membuat makanannya sendiri. Oleh karena itu segala bentuk usaha meningkatkan produksi suatu tanaman, jika ditinjau dari fisiologi tanaman maka langkah yang benar adalah memaksimalkan fungsi dan kinerja klorofil tanaman. Unsur hara Nitrogen sangat berperan dalam pembentukan dan kinerja klorofil, hal tersebut yang menjadikan hara N harus diberi perhatian khusus dibandingkan unsur hara lain.
Oleh karena itu diperlukan pengujian untuk mendeteksi batas kritis suatu tanaman terhadap kandungan unsur hara N sehingga diharapkan  dapat diketahui data yang akurat mengenai kebutuhan tanaman akan unsur hara N. Pengujian batas kritis unsur hara ini bisa dilakukan dengan menganalisis klorofil suatu tanaman.

1.2   Tujuan
            Untuk mengetahui batas kritis suatu unsur hara pada tanaman.








BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Bojović dan Marković (2009) Kandungan nitrogen suatu wilayah dapat diketahui melalui identifikasi klorofil. Nitrogen yang merupakan unsur hara mobile diketahui dapat tinggal didalam tanaman bahkan diseluruh jaringan tanaman, namun kandungan tertinggi nitrogen ada di bagian klorofil daun-daun  dewasa yang terdapat dibagian bawah batang tanaman. Daun yang sudah dewasa dipastikan mempunyai klorofil yang lebih banyak, lebih kuat dan lebih produktif menghasilkan makanan sehingga dibutuhkan pula katalisator berupa unsur N yang banyak. Tandai lain yang dapat diamati dari penampakan luar adalah berubahnya warna daun dewasa menjadi kemerahan akibat terlalu banyak nitrogen yang terserap, nitrogen tersebut justru memacu terbentuknya “anthosianin” (Bojović dan Marković ,2009)           
            Unsur hara yang memiliki peran penting ketika tanaman memasuki fase vegetatif adalah unsur Nitrogen.  Unsur ini memiliki peran mensintesis klorofil yang kemudian dimanfaatkan dalam proses fotosintesis. Sedangkan untuk tanaman Rosela sp, unsur nitrogen tidak hanya mempengaruhi sintesa protein namun mendorong produksi kelopak bunga.  Tanaman pada prinsipnya tidak dapat menyerap unsur hara dalam bentuk kompleks, tetapi tanaman menyerap nitrogen dalam bentuk ion NH4 dan NO3-. Namun masalah yang sering muncul saat budidaya tanaman obat Rosela sp adalah kekurangan Nitrogen. Gejala yang timbul akibat kekurangan nitrogen adalah terhambatnya pertumbuhan tanaman atau tanaman kerdil yang ditandai dengan perubahan warna daun yang semula hijau menjadi hijau pucat bahkan hijau kekuningan. Selain perubahan warna, gejala muncul adalah klorosis yang kemudian diikuti nekrosis pada daun-daun tua (Santoso B,2012).
Fotosintesis merupakan suatu proses metabolisme dalam tanaman yang pada akhirnya membentuk karbohidrat dengan menggunakan karbon dioksida dari udara dan air dari dalam tanah dan bantuan sinar matahari. Fotosintesa berlangsung dalam kloroplast yang berisi klorofil. Klorofil dibedakan menjadi klorofil a dan klorofil b. Klorofil a berwarna hijau tua sedangkan untuk klorofil b berwarna hijau muda. Klorofil merupakan pigmen yang berfungsi sebagai penangkap energi matahari. Klorofil berperan dalam proses pengadaan energi yang akan digunakan untuk sintesa makromolekul di dalam sel, misalnya karbohidrat dengan cara mereduksi karbon dioksida. Proses ini berlangsung dalam sel dan hasil reaksi sampingan yang terjadi berupa molekul oksigen dan merupakan sumber oksigen di udara (Jumin, 2010).
            Menurut Sugiarti dalam Raharjo (2010) Dalam dunia pertanian sistem budidaya yang baik akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan salah satunya adalah kebutuhan unsur hara makro N, P dan K. Unsur hara ini sangat esensial dalam mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas suatu tanaman. Oleh karena itu keseimbangan unsur hara N, P dan K selalu diusahakan terpenuhi demi mendapatkan produktivitas yang tinggi. Sumber dari unsur hara N, P dan K mudah ditemukan dalam wujud pupuk buatan maupun pupuk organik. Namun tetap diusahakan agar petani menggunakan pupuk organik karena selain mencukupi kebutuhan hara N, P dan K pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan populasi mikrobia dalam tanah (Raharjo M, 2010).
            Kandungan hara N disekitar tanaman tidak dapat dipungkiri lagi sangat menentukan pertumbuhan dan fisiologis tanaman. Pupuk majemuk NPK diketahui dapat memberi suplai hara N yang cukup besar ke dalam tanah. Pupuk majemuk NPK merupakan kombinasi seimbang antara pupuk tunggal N, P dan K. Oleh karena itu perlakuan pemupukan majemuk NPK yang mengandung nitogen jelas membantu pertumbuhan tanaman. Dalam pupuk majemuk setiap hara akan memiliki peran masing-masing, fungsi hara nitrogen bagi tanaman adalah bertindak sebagai pupuk yang mendukung pertumbuhan pada fase vegetatif suatu tanaman. Hal tersebut dapat diketahui dengan warna hijau yang terlihat dari keseluruhan tanaman apabila unsur N terpenuhi dengan tepat. Selain memperbaiki keadaan tanaman saat fase vegetatif, unsur N juga diketahui mempengaruhi pembentukan protein dalam sel tanaman (Wasis dan Fatia, 2011).
            Menurut Perwitasari B (2012) Unsur nitrogen hanya dapat diserap tanaman dalam bentu ion-ion tertentu, yaitu NH4 (ammonium) dan NO3- (nitrat). Setiap ion tersebut ternyata memiliki peran dan manfaat yang berbeda, ion NH4 fokus pada pertumbuhan awal tanaman yang kemudian membuat tanaman tumbuh dengan pesat, sel membesar dan tahan terhadap penyakit. Hara nitrogen memang dibutuhkan oleh tanaman, karena jika kekurangan hara nitrogen tanaman akan cepat menunjukkan gejala seperti pertumbuhan tanaman yang terhambat (kerdil) gejala tersebut kemudian mempengaruhi proses fisiologis pembentukan selulosa hasil fotosintesis, bahkan kekurangan nitrogen diduga dapat menurunkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama penyakit (Perwitasari B et al.,2012).
Batas kritis unsur hara pada suatu tanaman sangat penting diketahui sebelum melakukan tindakan pemupukan unsur hara. Jika pemberian unsur hara kedalam tanah telah tepat maka diprediksikan pertumbuhan tanaman disekitar tanah tersebut optimum bahkan meningkatnya hasil produksi tanaman tersebut. Nilai dosis yang diketahui melalui analisa batas kritis dapat dijadikan sebagai acuan aplikasi pemupukan tepat dosis. Penelitian dengan berbagai perlakuan telah dilakukan hanya untuk menentukan dosis pemupukan yang tepat. Hasil data yang kemudian menunjukkan tanaman dapat tumbuh optimal diasumsikan menjadi acuan pemberian pupuk ( Rosmarkam dan Yuwono, 2002).
            Menurut Muthalib dalam Ai Nio Song (2011) Pigmen utama pada suatu tanaman adalah klorofil. Klorofil merupakan pigmen pemberi warna hijau pada tanaman, bahkan alga dan bakteri fotosintetik. Klorofil memegang peran penting saat proses fotosintesis, yaitu pigmen yang mampu menyerap dan mengubah energi cahaya menjadi energi kimia. Rantai kimia klorofil adalah (C20H39O) yang akan berubah menjadi  (C20H39OH) apabila terkena air. Pembentukan pigmen klorofil terjadi didalam kloroplas dan dibantu beberapa katalisator yang diantaranya adalah unsur Nitrogen (Ai dan Banyo ,2011).
Zat lemas nitrogen berfungsi meningkatkan pertumbuhan tanaman, mendukung produktivitas  klorofil, menjadi katalisator dalam penyusunan protein, meningkatkan produksi tanaman dalam menumbuhkan daun dan tunas serta memberi kondisi berkembangbiaknya mikroorganisme dalam tanah yang penting bagi pertumbuhan  dan kelangsungan pelapukan bahan bahan organik. Menurut Van Dijk dalam Kartasapoetra (2005) gejala yang ditimbulkan akibat kelebihan unsur N diibaratkan putih telur yang lebih banyak atau suatu sel yang berisi plasma yang terlalu banyak. Hal tersebut menyebabkan penyimpangan pertumbuhan daun bahkan jaringan mati (Kartasapoetra dan Sutedjo,2000).
Menurut Lakitan (2012) dalam bukunya Dasar–Dasar Fisiologi Tumbuhan,
dinyatakan bahwa beraneka ragam unsur hara dapat ditemukan di dalam tubuh tanaman, namun unsur-unsur tersebut tidak seluruhnya dibutuhkan untuk kelangsungan hidup tanaman tersebut. Hanya ada beberapa unsur hara yang meracun bagi tanaman, unsur hara tersebut ada yang telah tergolong  racun dari awal, ada pula saat kondisi tertentu unsur hara tersebut berubah menjadi racun. Unsur hara tersebut sebagian besar adalah unsur mikro dan logam berat seperti Fe, Al, Cd, Ag, dan Pb. Sedangkan unsur yang kemudian berubah racun karena kondisi tertentu dan paling banyak ditemukan kasusnya adalah kelebihan hara N (nitrogen). Kelebihan unsur ini dapat menyebabkan jaringan vascular pecah dan mengakibatkan terhambatnya proses penyerapan air. Gejala lain yang kemudian timbul adalah klorosis bahkan nekrosis (Lakitan, 2012).
                                   
















BAB 3. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
            Praktikum acara “Batas kritis suatu unsur hara (N) dan pengukuran kandungan klorofil pada tanaman” dilaksanakan pada hari Kamis 11 April 2013 pukul 07:30 sampai selesai, praktikum bertempat di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Dasar, Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1.      Bak atau ember
2.      Saringan pasir
3.      Polibag
3.2.2 Bahan
1.      Pasir steril
2.      Bibit jagung
3.      Pupuk Urea

3.3 Cara Kerja
1.        Menyiapkan polibag yang telah dilubangi bagian bawahnya, kemudian isi dengan pasir steril.
2.        Menyiapkan bibit tanaman dan mencuci akarnya sampai kotoran hilang, menanam bibit yang telah disiapkan ke dalam polibag.
3.        Memberian larutan nutrisi atau pupuk dengan menyiram pada media pasir
4.        Melakukan pemeliharaan dan pemberantasan hama penyakit yang mungkin menyerang.



BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan maka dapat diketahui hasil berupa tabel-tabel sebagai berikut:
Tabel 1. Tinggi Tanaman Jagung
Perlakuan
Ul
Hari Ke-
0
3
6
9
12
15
18
21
24
27
0 gr (Kontrol)
1
0
0,83
8,63
16,8
27,56
36,83
42,43
44,33
48,56
52,73
2
0
1,6
8,66
17,7
28,66
38,83
38,66
41,83
48,83
50,16
1 gr
1
0
0,33
4,6
10,1
18,9
24,9
26,50
28,1
36,15
41,3
2
0
0,56
8,83
18,9
31,3
44
45
45
50,66
60,06
2 gr
1
0
0,33
8,83
17,6
27
35,16
40,5
40,5
49,56
51,56
2
0
1,46
10,5
16,3
29,66
49,33
69
73,66
82
85,73
3 gr
1
0
1,06
8,67
18,76
29,83
39,4
47,33
50,83
55
64,03

2
0
0,63
9,8
25,6
29,66
55,33
72,83
78
88
94,86
4 gr
1
0
3,2
12,3
20,16
28
47,03
64,5
69,5
74,5
83,16

2
0
0,2
8,73
30,8
37,33
42,73
64
71,5
80,3
101,67
5 gr
1
0
0,96
13
27,03
30,33
46,83
57
67,5
68,6
73

2
0
0,6
7,1
14,5
29,66
36,03
66,66
70,16
78
89,67
6 gr
1
0
1,43
12,83
20,46
21,66
27,6
33,83
36,33
39,6
43,2

2
0
0,80
11,4
25,66
25,66
34,83
55,5
60,16
62,83
85,67









Tabel 2. Jumlah Daun Jagung
Perlakuan
Ul
Hari Ke -
0
7
14
21
28
0 gr (Kontrol)
1
0
3
5
5
5
2
0
3
6
6
6
1 gr
1
0
3
5
6
7
2
0
3
5
6
7
2 gr
1
0
3
5
6
7
2
0
3
6
7
9
3 gr
1
0
3
5
5
6

2
0
3
6
8
8
4 gr
1
0
3
6
6
6

2
0
3
6
9
9
5 gr
1
0
3
6
6
6

2
0
2
4
7
9
6 gr
1
0
3
3
5
4

2
0
3
6
7
6

Tabel 3. Panjang Daun Jagung
Perlakuan
Ul
Hari Ke -
0
7
14
21
28
0 gr (Kontrol)
1
0
6
17,8
32,48
38,06
2
0
5,7
22,26
30,52
37,26
1 gr
1
0
4,8
19,8
32,33
42,3
2
0
6,3
25,2
41,32
50,2
2 gr
1
0
6,16
20,35
31,3
36,06
2
0
6,83
28,43
49,4
72,23
3 gr
1
0
6,13
22,08
34,05
45,43

2
0
7,5
32,06
52,76
78,06
4 gr
1
0
7,3
30,53
46,81
61,8

2
0
7,16
31,86
56,22
66,9
5 gr
1
0
8,16
29,24
37,96
53,9

2
0
4,36
28,3
41,54
66,7
6 gr
1
0
7,36
20,75
24,84
80,6

2
0
7,5
27,93
38,59
54,75



Tabel 4. Lebar Daun Jagung
Perlakuan
Ul
Hari Ke -
0
7
14
21
28
0 gr (Kontrol)
1
0
1,15
1,31
1,88
2,23
2
0
1,36
1,44
1,87
2,64
1 gr
1
0
0,83
0,96
1,65
9,13
2
0
1,13
1,61
2,4
3,81
2 gr
1
0
1,16
1,47
2,29
2,33
2
0
1,33
1,83
3,5
5,23
3 gr
1
0
1,35
1,58
2,22
2,63

2
0
1,43
1,73
3,7
7,66
4 gr
1
0
1,35
1,84
2,99
3,83

2
0
1,36
2,11
3,44
7,23
5 gr
1
0
1,56
1,75
2,46
3,26

2
0
1,56
2,83
3,22
4,5
6 gr
1
0
1,5
1,24
1,84
2,16

2
0
1,33
1,77
2,18
3,61

Tabel 5. Gejala Morfologi Tanaman Jagung
Perlakuan
Ul
Gejala Morfologi Tanaman



0 gr (Kontrol)
1
Daun klorosis

2
Kerdil, daun sempit dan pendek, berwarna orange
1 gr
1
Daun klorosis

2
Kerdil, daun sempit dan pendek, berwarna kuning
2 gr
1
Daun klorosis

2
Tepi daun menguning
3 gr
1
Daun klorosis

2
Subur, tinggi, daun lebar berwarna hijau
4 gr
1
Daun klorosis

2
Subur, tinggi, daun lebar, berwarna hijau
5 gr
1
Daun hijau

2
Daun hijau, cukup subur
6 gr
1
Daun hijau

2
Daun hijau, cukup subur

4.2 Pembahasan
            Dalam proses kehidupan tumbuhan, berbagai faktor harus terpenuhi agar tumbuhan dapat hidup dan melakukan proses fisiologisnya secara maksimal. Salah satu faktor yang menentukan kehidupan tanaman adalah ketersediaan hara dalam media tumbuhnya. Hara yang dibutuhkan oleh tanaman dapat dibedakan menjadi 2 yaitu hara makro dan hara mikro. Pada praktikum kali ini maka akan dibahas mengenai hara makro dan bagaimana batas kritis hara ini terhadap pertumbuhan tanaman jagung.
Unsur hara makro  merupakan hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang  relatif banyak. Terdapat 6 unsur hara makro  yang esensial bagi tanaman yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), dan juga Belerang (S). Berikut adalah identifikasi dan karakteristik dari hara-hara makro.
1. Nitrogen (N)
            Unsur hara ini merupakan hara yang hampir semua tanaman membutuhkannya dalam jumlah yang relatif besar, yaitu Nitrogen (N). Setiap tanaman tidak akan bisa langsung menyerap nitrogen langsung dalam wujud aslinya, namun nitrogen diambil oleh tanaman dalam bentuk amonium (NH4+) dan nitrat (NO3-). Hal yang menjadikan Nitrogen hingga memegang peran penting dalam kehidupan tanaman karena Nitrogen merupakan unsur hara utama penyusun dari semua protein dan asam nukleat dan dengan demikian N merupakan penyusun protoplasma tanaman secara keseluruhan.
            Mekanisme penyerapan unsur N hingga menjadi protein oleh tanaman ketika dilakukan pemupukan urea atau pupuk nitrogen lainnya secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut. Ketika urea masuk kedalam tanah maka tanaman akan meresponnya, namun tanaman tidak bisa langsung menyerap wujud N tersebut. Unsur N Harus diubah dulu menjadi nitrat dan dibantu oleh mikroorganisme yang ada dalam tanah. Nitrat kemudian akan diserap oleh tanaman dan masuk melalui akar. Kemudian nitrat dialirkan ke bagian atas tanaman dan akan mengalami proses reduksi. Nitrat kemudian direduksi menjadi asam amino (NH2) dibantu enzim nitrat reduktase dan membutuhkan energi kegiatan metabolisme seluler. Proses asimilasi amonium berlangsung sangat cepat, membentuk senyawa N organik, asam glutamat. Hasil dari proses asimilasi tersebut kemudian dapat disusun menjadi protein-protein yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.
            Secara spesifik hara nitrogen dibutuhkan tanaman karena menyangkut peran pentingnya dalam berbagai proses. Peran tersebut diantaranya adalah dalam pembentukann jaringan atau sel-sel muda misalnya dalam pembentukan ujung tanaman atau tunas tanaman, pembentukan daun, batang dan akar . Selain itu N sangat berperan dalam pembentukan klorofil dan kloroplas yang berfungsi untuk menangkap cahaya matahari yang berguna dalam proses fotosintesis. Dalam peranannya di fase vegetatif, khusunya tanaman sayuran N mampu memperbanyak jumlah daun sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman sayuran.
Gejala kekurangan dan kelebihan unsur N pada umumnya tanman akan mengalami gejala sebagai berikut :
Keurangan:
1.    daun-daun mulai berwarna pucat sampai hijau kekuningan, (klorosis). Proses penguningan daun tanaman yang kekurangan N dimulai dari daun yang tua dan menjala ke daun muda.
2.    pertumbuhan ketika N kurang lambat atau kerdil, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.
3.    daun-daun sebelah bawah nampak hangus dan mati (nekrosis) sebelum waktunya sementara ujung tanaman tetap hijau,
4.    buah rontok sebelum waktunya dan perkembangan buah berkurang
Sedangkan kelebihan hara N akan berakibat:
1.    pertumbuhan fase vegetative tanaman dapat ditingkatkan tetapi akan memperpendek masa generative.
2.    tanaman akan berwarna warna hijau gelap dan sukulen yakni terlalu banyak mengandung air, akibatnya tanaman berubah menjadi sangat rentan akan serangan organism penggangu tumbuhan (OPT) yakni hama, bakteri, jamur, virus, dan gulma, selain itu tanaman juga mudah roboh.
3.    terjadi keracuanan N karena  terlalu banyaknya unsur N yang tersedia Dalam am bentuk ammonium (NH4+) .Keracunan pada tanaman dapat mengakibatkan jaringan pada vascular pecah dan berakibat terhambatnya resapan air masuk kedalam tanaman.
2. Phospor (P)
            Unsur hara ini merupakan unsur hara yang menduduki peringkat kedua setelah N sebagai unsur hara paling esensial bagi tanaman yaitu Phospor (P). Landasan yaang mendasari hal tersebut dikarenakan P ketika dalam ortho-pospat akan memegang fungsi penting dalam reaksi enzim yang tergantung pada proses fosforilasi. Selain itu fosfor merupakan bagian dari inti sel tanaman, dan berperan dalam pembelahan sel. Lebih lengkapanya lagi hara P dapat merangsang pertumbuhan jaringan akar dan tanaman muda. Sekaligus juga mempercepat proses pembungaan dan pemasakan buah dan biji.
            Kadar P dalam tanah pada umumnya adalah : 3Ca3(PO4)2, CaF2 (apatit fluor), 3Ca3 (PO4)2. (apatit karbonat), 3Ca3(PO4)2Ca(OH)2 (apatit hidroksida), 3Ca(PO4)2. CaO (apatit oksida), Ca3(PO4)2(fosfat trikalsium), Ca(H2PO4) (fosfat monokalsium). Apatit fluor adalah jenis P paling tidak larut dan tidak tersedia bagi tanaman,  sedangkan  fosfat monoklasium dan fosfat dikalsium adalah bentuk P yang mudah tersedia bagi tanaman.
            Mekanisme penyerapan dan penggunaan hara P oleh tanaman dapat digambarkan sebagai berikut ketika fosfor masuk, maka fosfor dibentuk menjadi senyawa pirofosfat yang bersifat tidak stabil dalam bentuk Adenosin Tri Phosphat (ATP). Ketika ATP terhidrolisis dan membentuk P organik, energi yang dikeluarkan adalah 760 Kcal/mole. ATP dan ADP dalam jaringan tanaman merupakan energy utama yang digunakan tanaman untuk melakukan aktifitasnya dan berbagai proses fisiologis.
Gejala kekurangan atau defisiensi unsur P pada tanaman  adalah berakibat pada daun tanaman menjadi lebih tua dan daun sering kali berwarna merah. Batang tanaman akan menjadi ungu  yang semakin lama akan berubah mennjadi kuning. Sedangkan gejala yang ditimbulkan akibat kelebihan unsur hara P adalah menyebabkan pertumbuhan tanamana menjadi kurang optimal, tanaman akan mennjadi kerdil. Daun tanaman akan berwarna  keunguan  yang diawali dari ujung dan akan menyebabkan penyerapan unsur hara mikro akan terganggu.
3. Kalium (K)
Hara kalium diserap tanaman dalam wujud bentuk ion K+. Kalium merupakan hara mobile yang dapatt berpindah tempat. Apabila pada jaringan tanaman sudah terpenuhi unsur K nya maka kalium akan berpidah ke jaringan membutuhkan K atau jarungan yang kekurangan K. 
Mekanisme penyerapan dan peran kalium dapat dijelaskan sebagai berikut Pertama, Ion K akan meningkatkan turgor sel pada titik-titik tumbuh tanaman, kemudian  membantu dalam permekaran sel pada pembelahan mitosis. Kedua, Ion segera akan menurunkan potensial air pada protoplasma, Ketiga, transpor aktifnya oleh xilem akar menimbulkan tekanan pada akar, yang membantu serapan air kedalam xilem tersebut. Keempat, Ion ini dapat membuka dan menutup stomata dengan transpor aktifnya keluar-masuk sel tersebut. Oleh karena itu ion K sangat membantu dalam mengurangi kehilangan kelembaban ketika tanaman mengalami stres kekurangan air.
Kalium merupakan salah satu unsur utama yang diperlukan tanaman dan sangat mempengaruhi proses produksi tanaman. Peran kalium hingga sangat penting dalam setiap metabolisme dalam tanaman, karena
1.      Selama proses sintesis dari asam amino dan protein dari ion-ion amonium. kecepatan asimilasi karbon dioksida (CO2) akan ditentukan oleh kadar Kalium dalam tanaman.
2.      Kalium berperan mebantu pembentukan protein dan karbohidrat,
3.      Kalium dapat meenegarkan jerami padi dan menguatan bagian kayu dari tanaman,
4.      Kalium meningkatkan resistensi terhadap penyakit dan kualitas buah-buahan.
Berdasarkan penelitian kekurangan kalsium menunjukkan akibat buruk pada tanaman, yaitu dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan pada  sistem perakaran, dan gejala ini dapat nampak pada daun. Gejala kekurangan unsur kalium daun akan berubah menjadi mengkerut  aatau menjadi keriting yang kadang-kadang daun yang tua akan mengkilap akn tetapi tidak merata. Ujung dan tepi daun akan tampak menguning warnanya akan tampak pada bagian di antara tulang-tulang daun dan jika parah maka akan tampak bercak-bercak kotor pada daun. Batang tanaman akan lemah dan pendek-pendek  sehingga tanaman akan kerdil. Buah yang tummbuh tidak akan sempurna, kualitasnya jelek dan tidak akan lamu untuk disimpan.
4. Kalsium (Ca)
            Hara makro esensial selanjutya adalah Kalsium (Ca). Hara ini ternyata merupakan unsur utama (essensial) yang juga sanagat diperlukan untuk pertumbuhan dan berfungsinya ujung-ujung akar.. Kalsium tersedia dalam untuk tanaman ketika terdapat dalam bentuk kalsium pektat, yang merupakan penyusun dari lamela tengah dan dinding sel, dan dengan demikian juga mungkin berkumpul dalam daun.
            Fungsi utama kalsium sebagai unsur hara esensial tanaman adalah sebagai berikut :
1.    Kalsium berperan dala pengaturan osmosis, yang merupakan bagian dari struktur dinding sel.
2.    Kalsium dapat memperkuat dinding sel untuk mengurangi penetrasi penyakit.
3.    Kalsium akan menyediakan pengangkutan dan retensi unsur-unsur yang lain di dalam tanaman.
4.    Kalsium selalu terlibat dalam metabolisme atau pembentukan inti sel dan mitokondria
Ketika tanaman kekurangan atau kelebihan hara ini maka gejala yang tampak adalah, daun muda dan ujung titik tumbuh tanaman akan berkeriput, dan akhirnya mengering. Daun-daun yang lebih tua kelihatan lebih banyak berkeriput. Kekurangan kalsium ini juga dapat menyebabkan terkumpulnya zat-zat lain di dalam jaringan tanaman sehingga dapat menurunkan kekuatan pertumbuhan dan, bahkan, tanaman benar-benar menderita. Oleh karena itu pemberian kalsium yang seimbang akan membantu menetralkan distribusi unsur-unsur hara ke seluruh bagian tanaman.

5. Magnesium (Mg)
            Hara selanjutnya adalah hara yang berfungsi menyusun klorofil daun yaitu Magnesium (Mg). Magnesium (Mg) jelas diperlukan oleh semua bagian huijau dari tanaman, karena hara ini adalah penyusun klorofil.. Selain itu unsur ini sebagai penetral racun dalam tubuh tanaman akibat ketersediaan unsur Al dan Fe di dalam tanah sagat tinggi kadarnya, menaikkan kualitas serta kuantitas produksi suatu tanaman. Mahnesium juga memegang peranan penting dalam transportasi fosfat dalam tanaman, kandungan fosfat dalam tanah dan dalam tanaman sebenarnya dapat dinaikkan dengan jalan menambah magnesium daripada pemberian dengan pupuk fosfat itu sendiri.
Magnesium di dalam tanah berasal dari dekomposisi batuan yang berisi mineral, antar lain biotit, dolomit, serpentin, klorit, dan olivine dan tanaman menyerap unsur hara ini dalam bentuk ion Mg2+.
Mekanisme unsur P adalah diawali dengan transformasi Mg menjadi bentuk dalam bentuk kation divalen atau terikat oleh makromolekul. Kemudian kation elektropositif divalen ini bersifat mobile dalam jaringan tanaman, sehingga terkonsentrasi di dalam sitoplasma sel. Peran metabolisk utamanya hara P adalah dalam aktivasi berbagai ensim, khususnya ensim-ensim kinase yang terlibat dalam transfer gugus fosfat dengan metabolisme karbohidrat.
Sebagai penyusun klorofil ternyata Mg juga mempunyai peran penting yang lain, peran tersebut diantaranya
1.      Magnesium adalah stabilitator partikel-partikel ribosom.
2.    Magnesium selalu terlibat dalam reaksi enzimatik dengan kapasitas yang bervariasi.
3.    Magnesium merupakan penghubung enzim dengan substratnya.
4.    Magnesium mengubah konstanta keseimbangan reaksi dengan cara berikatan dengan produk, misalnya pada reaksi-reaksi kinase tertentu.
Ketika tanaman kekurangan Magnesium maka gangguan utama  muncul pada pada tanaman sayuran. Gejalanya kekurangannya bervariasi, tergantung pada jenis tanaman. Namun pada umumnya adalah Klorosis , Klorosis pada daun tua akan mengakibatkan daun akan tidak berfungsi. Klorosis ini bersifat interveinal dimana urat daun masih tetap hijau. Lebih lanjut daun akan memucat, menjadi coklat dan terjadi kematian jaringan daun (nekrosis).  Selain itu jika memiliki lapisan liin daun tanaman menjadi lebih tipis sehingga menyebabkan daun tanaman akan terbakar pada saat matahari terik dan daun menjadi berubah warna coklat tua atau kehitaman.
6.) Belerang (S)
     Unsur belerang (S) hanya dapat diserap dalam tanaman dalam bentuk sulfat (SO42-) dan akan tetapi pada konsentrasi yang tinggi  belerang akan bersifat toksik pada tanaman.  Senyawa belerang juga ada dalam bentuk pupuk, yaitu pada pupuk amonium sulfat dan super fosfat. Pupuk amonium sulfat lebih banyak mengandung sulfur bila dibandingkan dengan kandungan nitrogennya, sedangkan super fosfat mempunyai kandungan fosfat dan sulfur kira-kira hampir sama banyaknya. Jadi apabila melakukan pemupukan amonium sulfat atau super fosfat ke dalam tanah, maka secara tidak langsung telah memberikan pupuk belerang yang diperlukan oleh tanaman.
Mekanisme pemanfaaan hara S oleh tanaman adalah sebagai berikut, pertama (belerang) diubah dalam bentuk yang tereduksi dan diasimilasikan dengan rangka karbon dalam kloroplas, menjadi sistein dan metionin. Pada proses masuknya SO42- kedalam tubuh tanaman, SO42- bergerak kedalam tanaman dalam bentuk anorganiknya. Pada saat itu kondisi S tidak begitu mobile dan hampir tidak dapat ditranslokasikan. Kemudian setelah mengalami peningkatan status, mobilitasnya juga naik dan biasanya SO42- ditranslokasikan ke daun-daun muda dan tunas muda sehingga akan nampak gejalanya jika terjadi defisiensi.\
Ketika tanaman kekurangan berlerang  maka gejala yang sering terlihat adalah perubahan warna, yaitu daun menjadi menguning. Pada umumnya pengaruh kekurangan belerang ini sangat terasa, terutama oleh tanaman-tanaman jenis leguminosa seperti kacang tanah, tanaman berdaun tiga atau empat serangkai dan lain-lain. Jika tanaman kekurangan belerang ini secara umum tanaman akan menunjukkan  gejala kelainan-kelainan pada seluruh daun muda, mengkilap keputih-putihan hingga kemudian kelihatan hijau kekuning-kuningan dan akhirnya nekrosis.

Pemahaman mengenai makronutrien atau hara makro tidak hanya sebatas manfaat, gejala kelebihan dan kekurangannya saja. Namun terdapat konsep lain yang sangat penting dipahami yaitu Batas Kritis. Batas kritis suatu tanaman adalah batas dimana tanaan tersebut dapat mentoleransi pupuk yang diberikan kapada tanaman dengan mengetahui batas kritis suatu tanaman maka dapat menentukan dalam pemberian unsur hara  jadi tidak akan kelebihan atau kekurangan. Batas kritis unsur hara sebenarnya bisa digunakan sebagai salah satu acuan pemberian pupuk sesuai dengan kebutuhan unsur hara pada tanaman yang dibudidayakan, dalam praktikum ini adalah tanaman jagung.
 Untuk mengetahui batas kritis unsur harra, misal unsur hara N, maka perlu dilakukan adanya pengujian dengan berbagai perlakuaan pupuk N. Seperti pada praktikum ini, pemberian pupuk urea dengan perlakuan 0 hingga 6 gram. Pada umumnya indikator pengujian pada gejala yang nampak, pertumbuhan tanaman, dan kandungan klorofil.
Salah satu indikator yang mungkin tidak ada dalam praktikum ini adalah uji kandungan klorofil. Kandungan klorofil sebenarnya menjadi indicator utama dalam penentuan batas kritis unsur hara N. Hal ini karena berkaitan dengan salah satu peranan unsur hara N dalam pembentukan klorofil maka dapat dipastikan  di dalam klorofil terkandung banyak unsur hara N yang diserap. Fakta bahwa  N sangat berperan dalam pembentukan warna hijau daun dan klorofil daun, sehingga jika ada ketidaksesuaian mengenai pemberian hara sangat mudah dilihat berdasar pengukuran klorofil.
Batas kritis tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni umur tanaman, umur fisiologis jaringan tanaman, macam jaringan, interaksi antar unsur, dan iklim. Hasil yang menunjukkan pertumbuhan paling optimum bisa dijadikan sebagai acuan pemberian nutrisi seperti nutrsi N pada suatu tanamn, jika diaplikasikan pada lahan atau media yang lebih luas maka digunakan rasio atau perbandingan sehingga komposisi yang diberikan sama.  Oleh karen itu pada praktikum ini diharapkan diperoleh data yang memang benar-benar akurat mencerminkan batas kritis tanaman jagung.

Praktikum Klinik Tanaman yang dilaksanakan kali ini adalah mengenai batas kritis suatu unsur hara (N) pada tanaman. Tanaman yang dijadikan indikator adalah tanaman jagung yang ditumbuhkan dalam media pasir steril. Jagung tersebut ditanam dalam 7 polyback dan setiap polyback terdapat 3 tanaman. Perlakuan yang diterapkan adalah kontrol (0 grm) , 1 gr, 2gr, 3gr, 4gr, 5 gr dan 6 gr. Sedangkkan parameter yang digunakan dalam praktikum ini adalah tinggi tanaman, jumah daun, panjang daun, lebar daun serta gejala yang ditimbulkan akibat perlakuan. Beriku adalah grafik dari berbagai perlakuan tersebut :

Gambar 1. Grafik Tinggi Tanaman

            Data mengenai parameter tinggi tanaman diperoleh setiap 3 hari sekali mulai dari hari ke-0 sampai hari ke-27. Berdasarkan hasil pengamatan di hari terakhir atau hari ke-27 tanaman yang memiliki tinggi tanaman adalah tanaman perlakuan pupun urea 4 gram pada ulangan 2. Tinggi tanaman tersebut mencapai 101, 67 cm. Sedangkan hingga hari terakhir tanaman terpendek adalah tanaman dengan perlakuan kontrol dan 1 gram urea. Perlakuan tersebut rata-rata hanya menghasilkan tinggi tanaman 50 cm. Memang sejak awal semua ulangan 2 dari berbagai perlakuan menunjukkan data yang siginifikan dibanding yang lain.
Gambar 2. Grafik Jumlah Daun

Grafik diatas adalah grafik yang berasal dari hasil pengamatan setiap 1 minggu sekali, dengan parameter  yang diamati adalah jumlah daun, panjang daun serta lebar daun. Grafik pertama yang akan dibahas adalah Grafik Jumlah Daun.
Berdasarkan data jumlah daun pada hari ke-0 hingga hari ke-7 hampir rata-rata tinggi tanaman adalah sama yaitu sekitar 3 helai daun. Namun semakin bertambahnya minggu maka dapat diketahui bahwa hingga minggu ke-28 tinggi tanaman terbaik adalah pada tanaman  perlakuan 2 gram, 4 gram dan 5 gram yaitu mencapai 9 helai daun.
            Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa hara nitrogen memang dibutuhkan tanaman karena menyangkut peran pentingnya dalam berbagai proses. Menurut Lakitan dan Benyamin (2012) peran tersebut utama hara N adalah pembentukann jaringan atau sel-sel muda misalnya dalam pembentukan ujung tanaman atau tunas tanaman, pembentukan daun, batang dan akar . Selain itu N sangat berperan dalam pembentukan klorofil dan kloroplas yang berfungsi untuk menangkap cahaya matahari yang berguna dalam proses fotosintesis. Oleh karena itu perlakuan kontrol atau tanpa N tidak akan bisa mengalahkan perlakuan lain yang ditambahkan N berbagai dosis.

Gambar 3. Grafik Panjang daun

            Grafik selanjutnya yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan adalah Grafik Panjang Daun. Berdasarkan hasil pengamatan grafik tersebut maka dapat terlihat ulangan 1 dan 2 memiliki grafik peningkatan panjang daun yang lebih baik dibandingkan kontrol. Memang pada prinsipnya penambahan N harus sesuai dosis dan ketentuan, karena dapat dilihat pada h-14 sampai h-21 bahwa  perlakuan pemberian 4 gram urea lebih baik dibandingkan ulangan lain. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena pada h-28 perlakuan 6 gram urea dapat menumbuhkan daun hingga 80,6 cm.
            Keberhasilan dapat diketahui dengan warna hijau yang terlihat dari keseluruhan tanaman apabila unsur N terpenuhi dengan tepat. Selain memperbaiki keadaan tanaman saat fase vegetatif, unsur N juga diketahui mempengaruhi pembentukan protein dalam sel tanaman (Wasis dan Fatia, 2011). Pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa diperlukannya pemupukan N dalam budidaya tanaman, tentunya dengan dosis dan cara yang tepat.
 













Gambar 4. Grafik Lebar daun

            Grafik yang dibahas selanjutnya mengenai Grafik Lebar Daun. Berdasarkan penagamatan grafik lebar daun tersebut maka dapat diketahui bahwa pada h-7 lebar daun semua perlakuan rata-rata adalah sama.  Namun pada h-14 hingga h-28 terjadi peningkatan yang sangat signifikan. Pada h-14 perlakuan terbaik adalah 3 gram, sedangkan pada h-28 perlakuan yang terbaik dalam menumbuhkan lebar daun adalah pemberian pupuk 1 gram yaitu daun dengan lebar 9,13 cm. Namun beberapa tanaman jagung dengan perlakuan sama , 1 gram justru banyak yang tidak berkembang. Perkembangan yang terlihat stabil adalah perlakuan 3 dan 4 gram. Meskipun tidak mencapai hasil terbaik perlakuan ini mampu menumbuhkan tanaman jagung baik lebar daun, panjang daun dan jumlah daun yang stabil.
            Untuk mengaskan kembali data, maka di akhir pengamatan dilakukan penagamatan terhadap morologi tanaman jagung. Berdsarkan hasi pengamatan memang terlihat bahwa tanaman kontrol dan 1 gram terlihat tidak sehat, daun klorosis, kerdil, daun sempit dan pendek. Sedangkan gejala yang paling sehat adalah tanaman pada ulangan ke-3 dan ke-4.
            Apabila ditarik rata-rata maka tanaman yang tumbuh terbaik dengan parameter tinggi tanaman,jumlah daun, panjang daun, lebar daun dan gejala morfologi maka tanaman dengan perlakuan 3 gram dan 4 gram pemberian urea. Dapat dipastikan pada pemberian pupuk dosis 3 atau 4 gram adalah batas kritis pemupukan jagung terhadap pupuk N karena tanaman benar-benar tercukupi kebutuhan hara N, namun pada perlakuan 5 dan 6 gram maka pemupukan telah melewati batas kritis N, sehingga tanaman justru tidak tumbuh optimal.
Konsep batas kritis tersebut ditegaskan oleh Rosmarkam dan Yuwono (2002) batas kritis unsur hara pada suatu tanaman sangat penting diketahui sebelum melakukan tindakan pemupukan unsur hara. Jika pemberian unsur hara kedalam tanah telah tepat maka diprediksikan pertumbuhan tanaman disekitar tanah tersebut optimum bahkan meningkatnya hasil produksi tanaman tersebut.
Berdasarkan hasil praktikum tersebut maka dapat direkomendasikan untuk memupuk jagung agar pertumbuhannya optimal hingga 28hst adalah memupuk dengan urea 3-4 gram setiap minggunya.












BAB 5. PENUTUP
5.1  Kesimpulan
Berdasarkan  praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Macro Nutrient atau Unsur hara makro merupakan unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak pada tanaman. Unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman antara lain adalah yang dibutuhakan untuk pertumbuhan tanaman yaitu nitrogen (N), phosphor (P), kalium (K), Magnesium (Mg), kalsium (Ca), dan sulfur (S).
2.      Batas kritis unsur hara pada tanaman merupakan pedoman untuk menetukan dan mengaplikasian pemupukan yang tepat dan efisien.
3.      Setiap unsur hara makro memiliki karakteristik (bentuk yang dapat diabsorpsi tanaman, peran, gejala kelebihan dan kekurangan).

5.2 Saran
            Untuk perbaikan kedepannya asisten diharapkan memperbaiki beberapa sistem praktikum agar praktikan dan asisten tidak mengalami berbagai kendala ketika berlangsungnya praktikum.








DAFTAR PUSTAKA
Ai Nio Song dan dan Banyo Yunia. 2011. Konsentrasi Klorofil Daun Sebagai Indikator Kekurangan Air Pada Tanaman. Ilmiah Sains, 11(2):167-173.

Bojović Biljana dan Marković. 2009. Correlation between Nitrogen and Chlorophyll Content In Wheat (Triticum aestivum L.). Science Institute of Biology and Ecology, Faculty of Science, University of Kragujevac, 31(1):69-74.

Jumin, Hasan Basri. 2010. Dasar-Dasar Agronomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Kartasapoetra A dan Sutedjo M. 2000. Pengantar Ilmu Tanah Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian. Yogyakarta : Rineka Cipta.

Lakitan, Benyamin. 2012. Dasar – dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Perwitasari B dkk. 2012. Pengaruh Media Tanam dan Nutrisi Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakchoi (Brassica juncea L) dengan Sistem Hidroponik. Agrovigor ISSN 1979-5777, 5(1):14-26.

Rahardjo m  dan Pribadi e. 2010. Pengaruh Pupuk Urea, SP36, dan KCL Terhadap Pertumbuhan dan  Produksi  Temulawak (Curcuma xanthorhiza  Roxb). Littri ISSN 0853 -08212, 16(3):98-105

Rosmarkam A dan Yuwono A. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta : Kanisius Press.

Santoso B dkk. 2012. Pengaruh Jarak Tanam Dan Dosis Pupuk Npk Majemuk Terhadap Pertumbuhan, Produksi Bunga, Dan  Analisis Usaha Tani Rosela Merah. Littri ISSN 0853-8212, 18(1): 17 – 23.

Wasis B dan Fathia N. 2011. Pengaruh Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Semai Gmelina (Gmelina arboreaRoxb.) Pada Media Tanah Bekas Tambang Emas (Tailing), Silvikultur Tropika ISSN : 2086-8227. 2(1):14-18.



No Response to "BATAS KRITIS UNSUR HARA (N) DAN PENGUKURAN KANDUNGAN KLOROFIL PADA TANAMAN"

Poskan Komentar